Thursday, September 17, 2015

Ini Dasi dan Topi 'Make America Great Again' Pemberian Trump ke Fadli Zon

Pengusaha yang juga bakal calon presiden Amerika Serikat, Donald Trump memberikan bingkisan berisi topi dan dasi ke delegasi DPR saat di AS. Seperti apa tampilannya?
Ini Dasi dan Topi Make America Great Again Pemberian Trump ke Fadli Zon
Wakil Ketua DPR Fadli Zon yang menerima bingkisan tersebut memperlihatkan wujud dasi dan topi itu. Berdasarkan foto dari Fadli kepada detikcom, Jumat (18/9/2015), terlihat dasi berwarna merah dengan garis-garis biru.

Sementara itu, topi dari Trump berwarna putih dengan bordir warna hitam bertuliskan 'Make America Great Again'. Kalimat itu diketahui sebagai jargon kampanye Trump untuk berlaga di Pilpres AS 2016. 

Sebelumnya, Fadli sempat mengaku lupa di mana meletakkan bingkisan itu sepulang dari AS. Setelah jadi sorotan, Waketum Gerindra tersebut lalu buka-bukaan tentang topi dan dasi dan juga mau melaporkannya ke KPK.

"Isinya topi dan dasi garis-garis. Saya kira-kira paling harganya sekitar Rp 200.000," kata Fadli saat dihubungi, Kamis (17/9/2015).

Trump memang menggunakan topi sebagai salah materi kampanye. Topi-topi itu ada yang dijual secara online dengan berbagai desain. Ada topi yang bertuliskan 'Trump' dengan variasi warna abu-abu, cokelat dan hitam. Tulisan itu dikombinasikan dengan bendera Amerika Serikat dan tahun 2016.

fadli zon
Selain tulisan TRUMP, ada juga topi dengan tulisan 'make america great again', yang merupakan jargon kampanye Trump. Topi ini lebih banyak variasi warnanya dan kerap dikenakan sang taipan dalam beberapa kesempatan kampanye. Namun gara-gara topi tersebut, Trump juga pernah di-bully.

"Kalau tidak terpilih jadi presiden, Trump bisa menjadi pemeriksa tiket kereta dengan topi itu," tulis salah seorang komentator di twitter.

donald trump
Sekretaris Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat Winantuningtastiti tak memenuhi panggilan Mahkamah Kehormatan Dewan pada Rabu (16/9/2015) kemarin. Padahal Mahkamah memerlukan keterangan sekjen untuk mengklarifikasi sejumlah dokumen perjalanan Ketua DPR Setya Novanto, Wakil Ketua DPR Fadli Zon dan rombongan ke Amerika Serikat. 

Ketua MKD Surachman Hidayat sampai harus 'jemput bola' mendatangi Sekjen DPR untuk mengklarifikasi dokumen perjalanan tersebut. Namun keterangan yang diharapkan tetap tak didapat. 

Wakil Ketua MKD Junimart Girsang pun mendorong agar kasus dugaan pelanggaran kode etik oleh Novanto-Fadli Zon segera dinaikkan ke tingkat persidangan. "Saya bilang ini (pelanggaran kode etik) harus segera disidangkan, dibuka di persidangan," kata dia kepada detikcom, Jumat (18/9/2015). 

Menurut Junimart, MKD sudah memiliki bukti permulaan yang cukup untuk meningkatkan dugaan pelanggaran kode etik Novanto-Fadli ke tingkat persidangan. "MKD telah sepakat perkara ini tanpa aduan, bukti permulaan sudah cukup sehingga tak ada alasan untuk tidak meningkatkan ke persidangan," kata dia. 

Setelah perkara ini naik ke tahap persidangan, kata Junimart, MKD bisa menggunakan hak paksa untuk memanggil pihak-pihak yang mengetahui kunjungan Novanto-Fadli ke Amerika Serikat. "Kalau ada yang dipanggil tidak datang, kami bisa panggil paksa melalui kepolisian," kata Junimart. 

Dia juga meminta persidangan ini nanti berjalan terbuka untuk umum, agar semua pihak tahu. Perkara kunjungan Novanto-Fadli Cs ke Amerika Serikat yang berlanjut dengan bertemu Donald Trump, kata Junimart, sudah diketahui publik. 

 Niat Mahkamah Kehormatan Dewan mengusut tuntas dugaan pelanggaran kode etik atas pertemuan Ketua DPR Setya Novanto-Fadli Zon dan rombongan dengan Donald Trump tak berjalan mulus. Niat mereka meminta keterangan Sekretaris Jenderal DPR Winantuningtyastiti (Win) 'terhambat'.

Win tak memenuhi panggilan MKD dengan alasan belum ada izin dari pimpinan DPR yang dua di antaranya adalah Ketua Novanto dan Wakil Ketua Fadli Zon. Padahal Novanto dan Fadli adalah obyek terperiksa dalam kasus ini.

Tak urung alasan itu memantik kecurigaan dari Wakil ketua MKD Junimart Girsang. Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini menduga ada upaya dari pimpinan DPR untuk mempengaruhi kesekjenan. 

"Ada indikasi mencoba menghilangkan barang bukti, indikasi kedua pimpinan DPR sengaja mempengaruhi keseksejenan," kata Junimart kepada detikcom, Jumat (18/9/2015).

Setelah pada Rabu (16/9) lalu Sekjen tak bisa hadir dengan alasan harus izin pimpinan DPR, Ketua MKD  Surachman Hidayat berinisiatif melakukan 'jemput bola'. Meski tak didukung oleh anggota, Ketua MKD menemui langsung Sekjen DPR untuk meminta penjelasan terkait sejumlah dokumen perjalanan Novanto Cs ke Amerika Serikat. 

"Namun Sekjen tetap tak mau memberikan keterangan," kata Junimart. 

Ketua MKD pun melunak. "Oke kalau begitu tenaga ahli (TA) saja yang memberikan keterangan, tapi mereka tetap tidak mau," kata Junimart.

Sebelumnya Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan menegaskan bahwa tidak ada niat pimpinan menghalangi pengusutan dugaan pelanggaran kode etik oleh Novanto-Fadli Zon.

"Tidak ada maksud pimpinan menghalang-halangi proses ya. Ini hanya hal teknis. Tinggal antar institusi secara internal saja," Kata Taufik di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (17/9/2015).

Namun, hingga hari ini niat MKD meminta keterangan dari Kesekretariatan Jenderal DPR masih belum berhasil. Akankah MKD berhasil mengusut dugaan pelanggaran kode etik oleh Novanto-Fadli? 

No comments:

Post a Comment