Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengakui Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI memang sengaja memperlambat pembahasan anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) 2016. Upaya tersebut, menurutnya bukan tanpa alasan.
Ahok mengatakan upaya tersebut karena Pemprov DKI melakukan penyisiran atas dugaan anggaran-anggaran siluman. Namun, dia mengaku senang lantaran penyerapan anggaran yang sebelumnya rendah menunjukkan penaikan usai penyisiran itu. Bahkan, Ahok sesumbar penyerapan di DKI saat ini mencapai 67 persen.
"Kita pilih terlambat karena proses nyisirnya sama kayak APBD 2015. Kita lepasin dulu jadi kacau kan, lalu kita mulai perbaiki di APBD-P. Sebelum kita perbaiki, penyerapannya lambat kan. Sekarang penyerapan kami sudah 67 persen kok. Itu saja pembelian lahan kalau cepat bisa 70 persen harusnya," kata Ahok di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka, Jakarta, Selasa (29/12).
Ahok juga mengatakan untuk mempercepat penyerapan anggaran, dia telah meminta Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Heru Budi Hartono untuk mencairkan uang yang ada di deposito guna memulai lelang proyek-proyek pada 2016.
"Sudah karena memang peraturannya boleh. Tinggal SPK-nya tahun depan. Pokoknya tahun depan kita yakin penyerapannya cepat, ini saja saya sudah instruksikan Pak Heru cairkan yang deposito karena persediaan uang kita enggak ada," tandasnya.
Setelah cair, mantan politisi Gerindra ini meminta kepada pada Dinas-dinas di DKI Jakarta segera menggunakannya untuk pembelian barang dan jasa.
"Kita penyerapannya bisa kencang di Januari 2016 kayak pembelian barang-barang untuk kelurahan (breaker) termasuk untuk kecamatan (hotmix). Itu januari pertengahan sudah datang barangnya," jelas orang nomor satu DKI ini.
Dengan cara ini, dia menyebut telah memasang target penyerapan anggaran DKI Jakarta untuk tahun anggaran 2016 dapat mencapai angka 90 persen. "Target penyerapan? Saya rasa bagus bisa 90 persen lah," tutup Ahok.
Ahok mengatakan upaya tersebut karena Pemprov DKI melakukan penyisiran atas dugaan anggaran-anggaran siluman. Namun, dia mengaku senang lantaran penyerapan anggaran yang sebelumnya rendah menunjukkan penaikan usai penyisiran itu. Bahkan, Ahok sesumbar penyerapan di DKI saat ini mencapai 67 persen.
"Kita pilih terlambat karena proses nyisirnya sama kayak APBD 2015. Kita lepasin dulu jadi kacau kan, lalu kita mulai perbaiki di APBD-P. Sebelum kita perbaiki, penyerapannya lambat kan. Sekarang penyerapan kami sudah 67 persen kok. Itu saja pembelian lahan kalau cepat bisa 70 persen harusnya," kata Ahok di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka, Jakarta, Selasa (29/12).
Ahok juga mengatakan untuk mempercepat penyerapan anggaran, dia telah meminta Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Heru Budi Hartono untuk mencairkan uang yang ada di deposito guna memulai lelang proyek-proyek pada 2016.
"Sudah karena memang peraturannya boleh. Tinggal SPK-nya tahun depan. Pokoknya tahun depan kita yakin penyerapannya cepat, ini saja saya sudah instruksikan Pak Heru cairkan yang deposito karena persediaan uang kita enggak ada," tandasnya.
Setelah cair, mantan politisi Gerindra ini meminta kepada pada Dinas-dinas di DKI Jakarta segera menggunakannya untuk pembelian barang dan jasa.
"Kita penyerapannya bisa kencang di Januari 2016 kayak pembelian barang-barang untuk kelurahan (breaker) termasuk untuk kecamatan (hotmix). Itu januari pertengahan sudah datang barangnya," jelas orang nomor satu DKI ini.
Dengan cara ini, dia menyebut telah memasang target penyerapan anggaran DKI Jakarta untuk tahun anggaran 2016 dapat mencapai angka 90 persen. "Target penyerapan? Saya rasa bagus bisa 90 persen lah," tutup Ahok.
No comments:
Post a Comment