Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti meminta agar impor garam dihentikan. Sebab, itu bertentangan dengan tugasnya meningkatkan produksi garam lokal.
Menteri Susi mengaku sudah bertemu Menteri Perdagangan Rahmat Gobel dan Menteri Perindustrian Saleh Husin untuk meminta penyetopan impor garam.
"Saya bilang, 'saya menghidupkan petani garam kemudian Pak Gobel buka keran impor. Nanti dana untuk petani saya kasih saja ke bapak. Terserah bapak kasih mati atau hidup itu petani'," katanya.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sendiri mengaku telah melakukan pertemuan dengan beberapa asosiasi petani garam, dan para importir garam Indonesia. Hal itu untuk membahas soal impor garam yang saat ini semakin marak dilakukan para importir, dan membuat para petani garam lokal merasa dirugikan.
Dia mengatakan para importir merasa masih perlu melakukan impor karena kualitas garam petani tak sebagus milik asing. Para importir, lanjutnya, mengaku kalangan industri tentu menginginkan kualitas bagus untuk konsumsi garamnya.
"Para importir bilang, kalau memang harus pakai garam lokal untuk kebutuhan industri, kualitasnya tidak sebagus impor," jelas dia.
Menteri Susi merasa ironis karena Indonesia masih melakukan impor garam. Pasalnya, luas wilayah Indonesia didominasi lautan yang merupakan bahan baku garam. Tercatat pada 2014 jumlah impor garam mencapai 2,2 juta ton.
"Dan, tahun ini kita sudah mengimpor garam sebanyak 405.000 ton," ujar dia.
Bos maskapai SusiAir ini bukan cuma sekali mengungkapkan kekesalannya soal impor garam. Bahkan, koleganya di pemerintahan ikut kena 'semprot' karena tidak menghalau impor garam. Berikut merdeka.com merangkum kekesalan-kekesalan Menteri Susi soal impor garam.
Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menyatakan tak khawatir jika garam industri impor merembes ke pasar tradisional. Sebab, garam tersebut memiliki spesifikasi berbeda dengan garam dalam negeri dan tidak bisa dimakan.
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan semua jenis garam bisa dikonsumsi. Termasuk garam untuk industri.
"Garam industri sama garam rumahan dan aneka pangan itu semua bisa dimakan. Kalau ada yang bilang garam industri itu nggak bisa dimakan saya agak aneh. Karena semua garam bisa dimakan," ujarnya.
Hanya saja, menurut Susi, Garam industri memiliki kualitas bagus dan bersih. Dimana Natrium Klorida (NaCl) di atas 96 persen, magnesium dan kadar air lebih rendah.
Itu lah garam yang dibutuhkan industri kimia Indonesia," katanya. "Garam jenis tersebut yang saat ini belum bisa diproduksi oleh petani garam lokal. Produksi garamnya bisa, hanya saja petani lokal belum bisa memenuhi standar yang diperuntukkan bagi garam industri."
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menegaskan, impor garam industri dalam jumlah besar akan mematikan petani garam lokal. Apalagi impor dilakukan saat produksi garam dalam negeri memasuki masa panen.
"Kalau kita mau kasih mati harga petani garam, ya impor saja (garam) sebanyak-banyaknya," ujar Menteri Susi dengan nada kesal saat berbincang dengan wartawan di Kantornya.
Terlebih, kata Susi, impor garam industri yang dilakukan Kemendag ternyata bukan dari importir garam khusus industri. "Harusnya tidak boleh, kalau kita mau bantu petani garam kita," jelas dia.
Jika Kemendag berkukuh melakukan importasi garam industri dalam jumlah besar, Menteri Susi memutuskan berhenti melakukan pemberdayaan petani garam.
"Tahun ini kalau terus menerus seperti ini, saya juga tidak mau melaksanakan pemberdayaan petani garam. Karena percuma nanti uang kita buang, petaninya tidak mendapatkan manfaat karena harganya jatuh semua," ungkapnya.
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menegaskan, impor garam industri dalam jumlah besar akan mematikan petani garam lokal. Apalagi impor dilakukan saat produksi garam dalam negeri memasuki masa panen.
"Kalau kita mau kasih mati harga petani garam, ya impor saja (garam) sebanyak-banyaknya," ujar Menteri Susi dengan nada kesal saat berbincang dengan wartawan di Kantornya.
Terlebih, kata Susi, impor garam industri yang dilakukan Kemendag ternyata bukan dari importir garam khusus industri. "Harusnya tidak boleh, kalau kita mau bantu petani garam kita," jelas dia.
Jika Kemendag berkukuh melakukan importasi garam industri dalam jumlah besar, Menteri Susi memutuskan berhenti melakukan pemberdayaan petani garam.
"Tahun ini kalau terus menerus seperti ini, saya juga tidak mau melaksanakan pemberdayaan petani garam. Karena percuma nanti uang kita buang, petaninya tidak mendapatkan manfaat karena harganya jatuh semua," ungkapnya.
Menteri Susi mengaku sudah bertemu Menteri Perdagangan Rahmat Gobel dan Menteri Perindustrian Saleh Husin untuk meminta penyetopan impor garam.
"Saya bilang, 'saya menghidupkan petani garam kemudian Pak Gobel buka keran impor. Nanti dana untuk petani saya kasih saja ke bapak. Terserah bapak kasih mati atau hidup itu petani'," katanya.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sendiri mengaku telah melakukan pertemuan dengan beberapa asosiasi petani garam, dan para importir garam Indonesia. Hal itu untuk membahas soal impor garam yang saat ini semakin marak dilakukan para importir, dan membuat para petani garam lokal merasa dirugikan.
Dia mengatakan para importir merasa masih perlu melakukan impor karena kualitas garam petani tak sebagus milik asing. Para importir, lanjutnya, mengaku kalangan industri tentu menginginkan kualitas bagus untuk konsumsi garamnya.
"Para importir bilang, kalau memang harus pakai garam lokal untuk kebutuhan industri, kualitasnya tidak sebagus impor," jelas dia.
Menteri Susi merasa ironis karena Indonesia masih melakukan impor garam. Pasalnya, luas wilayah Indonesia didominasi lautan yang merupakan bahan baku garam. Tercatat pada 2014 jumlah impor garam mencapai 2,2 juta ton.
"Dan, tahun ini kita sudah mengimpor garam sebanyak 405.000 ton," ujar dia.
Bos maskapai SusiAir ini bukan cuma sekali mengungkapkan kekesalannya soal impor garam. Bahkan, koleganya di pemerintahan ikut kena 'semprot' karena tidak menghalau impor garam. Berikut merdeka.com merangkum kekesalan-kekesalan Menteri Susi soal impor garam.
Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menyatakan tak khawatir jika garam industri impor merembes ke pasar tradisional. Sebab, garam tersebut memiliki spesifikasi berbeda dengan garam dalam negeri dan tidak bisa dimakan.
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan semua jenis garam bisa dikonsumsi. Termasuk garam untuk industri.
"Garam industri sama garam rumahan dan aneka pangan itu semua bisa dimakan. Kalau ada yang bilang garam industri itu nggak bisa dimakan saya agak aneh. Karena semua garam bisa dimakan," ujarnya.
Hanya saja, menurut Susi, Garam industri memiliki kualitas bagus dan bersih. Dimana Natrium Klorida (NaCl) di atas 96 persen, magnesium dan kadar air lebih rendah.
Itu lah garam yang dibutuhkan industri kimia Indonesia," katanya. "Garam jenis tersebut yang saat ini belum bisa diproduksi oleh petani garam lokal. Produksi garamnya bisa, hanya saja petani lokal belum bisa memenuhi standar yang diperuntukkan bagi garam industri."
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menegaskan, impor garam industri dalam jumlah besar akan mematikan petani garam lokal. Apalagi impor dilakukan saat produksi garam dalam negeri memasuki masa panen.
"Kalau kita mau kasih mati harga petani garam, ya impor saja (garam) sebanyak-banyaknya," ujar Menteri Susi dengan nada kesal saat berbincang dengan wartawan di Kantornya.
Terlebih, kata Susi, impor garam industri yang dilakukan Kemendag ternyata bukan dari importir garam khusus industri. "Harusnya tidak boleh, kalau kita mau bantu petani garam kita," jelas dia.
Jika Kemendag berkukuh melakukan importasi garam industri dalam jumlah besar, Menteri Susi memutuskan berhenti melakukan pemberdayaan petani garam.
"Tahun ini kalau terus menerus seperti ini, saya juga tidak mau melaksanakan pemberdayaan petani garam. Karena percuma nanti uang kita buang, petaninya tidak mendapatkan manfaat karena harganya jatuh semua," ungkapnya.
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menegaskan, impor garam industri dalam jumlah besar akan mematikan petani garam lokal. Apalagi impor dilakukan saat produksi garam dalam negeri memasuki masa panen.
"Kalau kita mau kasih mati harga petani garam, ya impor saja (garam) sebanyak-banyaknya," ujar Menteri Susi dengan nada kesal saat berbincang dengan wartawan di Kantornya.
Terlebih, kata Susi, impor garam industri yang dilakukan Kemendag ternyata bukan dari importir garam khusus industri. "Harusnya tidak boleh, kalau kita mau bantu petani garam kita," jelas dia.
Jika Kemendag berkukuh melakukan importasi garam industri dalam jumlah besar, Menteri Susi memutuskan berhenti melakukan pemberdayaan petani garam.
"Tahun ini kalau terus menerus seperti ini, saya juga tidak mau melaksanakan pemberdayaan petani garam. Karena percuma nanti uang kita buang, petaninya tidak mendapatkan manfaat karena harganya jatuh semua," ungkapnya.
No comments:
Post a Comment