Thursday, August 13, 2015

Menteri Rini Larang Pihak Lain Intervensi Garuda, Termasuk Menko Kemaritiman

Menteri BUMN Rini Soemarno mengisyaratkan tidak boleh ada pihak manapun yang mencampuri urusan bisnis PT Garuda Indonesia Tbk, selain Menko Perekonomian di mana Kementerian Keuangan bertindak selaku pemegang saham perusahaan milik negara dan Kementerian BUMN sebagai kuasa pemegang saham.

"BUMN itu (Garuda) jelas di bawah Kemenko Perekonomian, bukan di bawah Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Jadi, jangan ada yang mencampuri Garuda di luar Kemenko Perekonomian," tandas Rini sebagaimana dikutip dari Antara, Kamis (13/8/2015).

Menurut Rini, saat ini Garuda sedang dalam mengembangkan usaha sehingga penanganan harus dilakukan secara menyeluruh.

Hal itu diungkapkan Rini untuk menanggapi pernyataan Menko Kemaritiman Rizal Ramli yang mendesak agar Garuda Indonesia membatalkan ekspansi armada. Dia mengaku telah menggagas pembatalan rencana pembelian pesawat Airbus A350 oleh Garuda Indonesia.

"Minggu lalu saya ketemu Presiden Jokowi. Saya bilang, mas saya minta tolong layanan tolong diperhatikan. Saya tidak ingin Garuda bangkrut lagi. Karena sebulan yang lalu beli pesawat dengan pinjaman 44,5 miliar dollar AS dari China Aviation Bank untuk beli pesawat airbus A350, 30 unit. Itu hanya cocok Jakarta-Amerika dan Jakarta-Eropa," ujar Rizal Ramli di Kantor Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Kamis (13/8/2015).

Menurut dia, rute internasional yang akan diterbangi oleh Garuda Indonesia tidak menguntungkan. Pasalnya saat ini, maskapai di kawasan ASEAN yang memiliki rute internasional ke Amerika Serikat dan Eropa yaitu Singapore Airlines kinerja keuangannya kurang baik.

Rizal beralasan tidak ingin Garuda bangkrut lagi karena membeli pesawat itu dengan menggunakan pinjaman luar negeri senilai 44,5 miliar dolar AS, sementara Airbus A350 hanya cocok untuk penerbangan ke Amerika dan Eropa.

Ia membuktikan pengalaman Garuda yang menerbangi rute internasional Jakarta-London tingkat isiannya hanya 30 persen sehingga memicu BUMN itu rugi berkepanjangan.

Rini mengaku belum mendengar secara langsung pernyataan Menko Maritim Rizal Ramli itu.

"Apa dasarnya (Rizal Ramli) bicara seperti itu? Apa dasarnya cancellation (pembatalan) itu? Saya rasa, janganlah bicara tanpa dasar. Segala sesuatunya bicara itu harus dengan dasar atau jangan sembarangan," tegas Rini.

Ia menjelaskan, Garuda adalah perusahaan publik yang harus bertanggungjawab kepada masyarakat luas.

"Apa-apa yang akan dilakukan di Garuda, tentu tidak bisa langsung diputuskan begitu saja. Harus ada dasar atau tidak sembarangan bicara," tegas Rini.

Usai rugi triliunan rupiah pada 2014 lalu, tahun ini keuangan Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mulai membaik. Pada semester I-2015 ini, Garuda membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar 29,3 juta dollar AS atau Rp 392,6 miliar dengan kurs Rp 13.400 per dollar AS.

Menurut Garuda, angka tersebut meningkat 114,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, di mana saat itu Garuda merugi 201,3 juta dollar AS. Peningkatan pendapatan itu ditandai dengan meningkatnya market share Garuda. 

Di pasar domestik, market share Garuda 44 persen. Sementara di pasar internasional 28 persen. 

Selain itu kata Direktur Utama Garuda Indonesia Arief Wibowo, penurunan harga minyak dunia menjadi faktor turunnya biaya operasi perusahaan. 

"Dalam RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan) mengasumsikan harga minyak 77 sen per liter. Ternyata saat ini jauh dibawah itu (harga minyak)," ujar Arif di Jakarta, Rabu (29/7/2015). 

Saat ini Garuda juga sudah melakukan lindung nilai atau hedgingbahan bakar atau fuel untuk mencegah kerugian besar akibat pelemahan rupiah. Hingga saat ini, dari 1,8 juta liter bahan bakar per tahun, 27 persen diantara sudah dilakukan lindung nilai. 

Sementara itu pendapatan usaha Garuda tercatat sebesar 1,84 miliar dollar AS, meningkat 4,7 persen dibandingkan tahun lalu sebesar 1,76 miliar dolar AS. 

Adapun beban usaha juga turun 11,6 persen, dari 1,99 miliar dollar AS pada 2014 menjadi 1,76 miliar dollar AS tahun 2015. 

Kemudian jumlah penumpang yang diangkut Garuda pada semester 1-2015 mencapai 15,9 juta penumpang atau naik 19,5 persen dibanding tahun lalu sebesar 13,3 juta penumpang. 

Selain itu, tingkat isian penumpang atau seat load factor juga melonjak 75,8 persen dari tahun lalu yang hanya 69 persen. 

Tahun lalu, Garuda Indonesia mengalami kerugian sebesar 371,9 juta dollar AS atau sekitar Rp 4,87 triliun (kurs Rp 13.100 per dollar AS) selama tahun buku 2014.Kerugian itu berdasarkan Laporan keuangan Garuda selama 2014 yang diterbitkan oleh Bursa Efek Indonesia.  Pada tahun 2013 Garuda sendiri meraup laba hingga 13,583 juta dollar AS.

No comments:

Post a Comment