Wednesday, August 12, 2015

Siswa SMP 159 Belajar di Musala, Ahok: Kita Perbaiki Sekolah di 2016

Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) akan merenovasi bangunan SMP 159 Tambora, Jakarta Barat yang sudah tidak layak hingga menyebabkan siswanya belajar di musala. Rencana renovasi dilakukan pada 2016 mendatang karena Ahok banyak mencoret anggaran tidak masuk akal dalam APBD 2015.

"Kita akan perbaiki 2016. Terus rehab-rehab kemarin juga nggak masuk akal, masa rehab 1 sekolah Rp 30-50 miliar. Itu mah bikin universitas," ujar Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (12/8/2015).

"Gila saja rehab sekolah Rp 30-50 miliar, makanya saya coretin. Lebih baik ada Silpa gede nggak apa-apa lah, daripada sekolah Rp 30-50 miliar," imbuhnya.

Mantan Bupati Belitung Timur itu pun mengaku gemas dan kesal melihat dana yang tidak masuk akal, terlebih lagi dengan kemunculan UPS. Padahal di Jakarta, menurut data yang dia miliki, ada sekitar 47 persen sekolah yang memiliki bangunan tidak layak.

"47 persen sekolah di Jakarta rusak, itu yang buat saya marah kenapa sekolah rusak beli komputer, beli scaner Rp 3,8 miliar, beli UPS 6 miliar, beli elektoronik sistem pemadam sekolah Rp 6 miliar dan sebagainya. Sekolah rusak kok, aneh-aneh saja," tutup dia.

SMP 159 di Tambora, Jakarta Barat minta dikunjungi Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) untuk melihat langsung kondisi kelas yang tidak lagi layak untuk proses belajar mengajar hingga membuat siswanya 'mengungsi' ke musala atau perpustakaan. Ahok pun mengaku sudah tahu kondisi rusak bangunan sekolah.

"Nggak apa-apa, kita sudah tahu kok. Kita sudah punya data sekolah rusak kok," ujar Ahok saat dikonfirmasi di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (11/8/2015).

Ahok menyebut sebanyak 47 persen bangunan sekolah di Ibu Kota kondisinya tidak baik. Dia pun mengaku program rehabilitasi bangunan sekolah hingga kini belum berjalan secara optimal karena sebagian dana dari APBD 2014 digunakan untuk membeli Uniterruptible Power Supply (UPS).

"Memang 47 persen sekolah jelek. Makanya saya bilang bagaimana kita bisa beli UPS," pungkasnya.

Dikonfirmasi secara terpisah, Kadis Pendidikan DKI Arie Budiman menyatakan usulan renovasi bangunan sekolah rencananya dilakukan 2016 mendatang. Dia pun menyarankan untuk sementara waktu kegiatan belajar mengajar (KBM) dibagi menjadi dua shift, yakni pagi dan petang.

Sebelumnya, Kepala Sekolah SMP 159 Abdul Rivai Harahap mengungkapkan keinginannya agar sekolah yang sudah tua itu dilihat langsung Gubernur Jakarta. Agar Gubernur bisa tahu bahwa masih ada sekolah yang sudah tidak layak untuk dijadikan tempat belajar mengajar di ibu kota.

Pihaknya menyebut proposal renovasi yang diajukan SMP 159 Jakarta Barat tidak pernah diberi respons positif oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Alhasil, siswa SMP 159 yang berada di Jalan Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Barat harus menjalani kegiatan belajar mengajar di musala dan perpustakan. Hal tersebut dikarenakan kurangnya ruang kelas.

SMP yang dibangun dari tahun 2003 itu berada di sebuah gang yang diapit mal besar dan rumah warga. Bangunan yang memiliki luas 1.632 meter itu hanya memiliki delapan kelas belajar, perpustakan, lab IPA, lab komputer, musala, ruang guru dan TU serta ruang kepala sekolah. 

No comments:

Post a Comment