Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mulai memasang strategi untuk menggaet hati warga muslim Ibu Kota melalui beberapa program. Hal itu diduga lantaran beberapa kali, gerakan yang mengatasnamakan umat muslim keras menolaknya menjadi pucuk pimpinan Jakarta.
Dalam sambutan saat menghadiri acara kumpul (halaqah) para ulama se-Jakarta yang digelar di Jakarta Islamic Center (JIC), Koja, Jakarta Utara, Ahok menyisipkan cerita jika saat masih kecil pernah hampir belajar Alquran.
Saat di Belitung Timur, Ahok memang bersekolah dan belajar di sekolah Islam. Dia dinasihati oleh gurunya untuk belajar mengaji. Maka Ahok dengan semangat membara menuju masjid selepas Salat Isya.
"Saya diminta sama guru saya ngaji setelah salat Isya. Sayang, saya tidak boleh masuk ke masjid oleh orang yang pikirannya pendek. Katanya saya kafir," ujar Ahok di Jakarta Islamic Center, Koja, Jakarta Utara, Rabu (12/8).
Ahok mengaku sangat menyesalkan kejadian itu. Padahal, jika saja dia diizinkan masuk ke masjid dan belajar membaca Alquran, mungkin dirinya sekarang sudah mahir berbahasa Arab.
Maka, agar kejadian di masa kecilnya itu tak terulang pada anak-anak di ibu kota, Ahok berjanji akan membangun sekolah berbasis pesantren di Yayasan Pondok Karya milik Pemprov DKI, yang bisa menampung 2.000 siswa. Hal serupa juga akan dilakukannya dengan SMK di kawasan JIC.
"Jadi nanti tidak hanya berilmu, tapi juga berakhlak. Saya yakin kalau IQ dan EQ saja tidak cukup. Kalau spiritualnya tidak bagus tidak akan jadi apa-apa," ujar Ahok.
"Kita dorong agar buat pemondokan. Harusnya orang yang hafal berapa juz Alquran harusnya bisa bahasa Arab. Nanti bisa bahasa Inggris, Arab, Mandarin dan bisa kuasa dunia kita," terangnya.
Selain itu, Ahok menyatakan niatnya untuk menjadikan JIC sebagai salah satu destinasi wisata religi milik Pemprov DKI Jakarta. Dia berharap banyak orang yang nanti belajar Islam di JIC.
"Nanti saya ingin Jakarta Islamic Center ini menjadi pusat Islam Indonesia, jika Anda berkunjung ke Jakarta. Saya ingin JIC ini jadi tempat tujuan wisata, yang menunjukkan Islamnya Indonesia," beber dia.
Ahok berjanji akan mensinergikan jalur Light Rapid Transit (LRT) dari depo Kepala Gading hingga JIC. Kebijakan ini diharapkan memudahkan akses bagi pengunjung untuk singgah.
"JIC pusat ilmu dan tentang Islam. Jadi yang datang ke Jakarta wajib mampir. Rutenya LRT dari depo ke Kelapa Gading, sampai ke Islamic Center," ucap dia.
Di sisi lain, Ahok juga mengkritisi waktu antrean keberangkatan haji umat Islam yang tidak ideal. Seperti di Jakarta, kata dia, warga membutuhkan waktu tunggu 17 tahun untuk melaksanakan ibadah ke Makkah.
"Waktu tunggunya 17 tahun, ini sangat tidak ideal. Harusnya paling lama satu atau dua tahun," kata dia.
Ahok mendesak Kementerian Agama mengubah sistem tersebut dengan memprioritaskan jamaah yang belum pernah pergi haji, dan menolak siapa pun yang ingin pergi haji untuk kesekian kalinya. Sebab, kesempatan beribadah harus dibagi kepada mereka yang belum melaksanakannya, supaya bisa mengurangi banyaknya antrean.
Dari pihaknya sendiri, Ahok mengaku telah membatasi jumlah orang dalam Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD), yang dikirim untuk mendampingi jamaah haji asal DKI. Aturannya hanya petugas yang belum pernah pergi menunaikan ibadah haji yang boleh jadi pendamping.
"Harusnya ada sistem yang bisa mengatur untuk membatasi orang yang sudah pernah ibadah haji, jadi antrean tidak terlalu lama nunggu. Selain adil, kita kasih kesempatan buat mereka tunaikan ibadah haji sambil tugas, pungkasnya.
Dalam sambutan saat menghadiri acara kumpul (halaqah) para ulama se-Jakarta yang digelar di Jakarta Islamic Center (JIC), Koja, Jakarta Utara, Ahok menyisipkan cerita jika saat masih kecil pernah hampir belajar Alquran.
Saat di Belitung Timur, Ahok memang bersekolah dan belajar di sekolah Islam. Dia dinasihati oleh gurunya untuk belajar mengaji. Maka Ahok dengan semangat membara menuju masjid selepas Salat Isya.
"Saya diminta sama guru saya ngaji setelah salat Isya. Sayang, saya tidak boleh masuk ke masjid oleh orang yang pikirannya pendek. Katanya saya kafir," ujar Ahok di Jakarta Islamic Center, Koja, Jakarta Utara, Rabu (12/8).
Ahok mengaku sangat menyesalkan kejadian itu. Padahal, jika saja dia diizinkan masuk ke masjid dan belajar membaca Alquran, mungkin dirinya sekarang sudah mahir berbahasa Arab.
Maka, agar kejadian di masa kecilnya itu tak terulang pada anak-anak di ibu kota, Ahok berjanji akan membangun sekolah berbasis pesantren di Yayasan Pondok Karya milik Pemprov DKI, yang bisa menampung 2.000 siswa. Hal serupa juga akan dilakukannya dengan SMK di kawasan JIC.
"Jadi nanti tidak hanya berilmu, tapi juga berakhlak. Saya yakin kalau IQ dan EQ saja tidak cukup. Kalau spiritualnya tidak bagus tidak akan jadi apa-apa," ujar Ahok.
"Kita dorong agar buat pemondokan. Harusnya orang yang hafal berapa juz Alquran harusnya bisa bahasa Arab. Nanti bisa bahasa Inggris, Arab, Mandarin dan bisa kuasa dunia kita," terangnya.
Selain itu, Ahok menyatakan niatnya untuk menjadikan JIC sebagai salah satu destinasi wisata religi milik Pemprov DKI Jakarta. Dia berharap banyak orang yang nanti belajar Islam di JIC.
"Nanti saya ingin Jakarta Islamic Center ini menjadi pusat Islam Indonesia, jika Anda berkunjung ke Jakarta. Saya ingin JIC ini jadi tempat tujuan wisata, yang menunjukkan Islamnya Indonesia," beber dia.
Ahok berjanji akan mensinergikan jalur Light Rapid Transit (LRT) dari depo Kepala Gading hingga JIC. Kebijakan ini diharapkan memudahkan akses bagi pengunjung untuk singgah.
"JIC pusat ilmu dan tentang Islam. Jadi yang datang ke Jakarta wajib mampir. Rutenya LRT dari depo ke Kelapa Gading, sampai ke Islamic Center," ucap dia.
Di sisi lain, Ahok juga mengkritisi waktu antrean keberangkatan haji umat Islam yang tidak ideal. Seperti di Jakarta, kata dia, warga membutuhkan waktu tunggu 17 tahun untuk melaksanakan ibadah ke Makkah.
"Waktu tunggunya 17 tahun, ini sangat tidak ideal. Harusnya paling lama satu atau dua tahun," kata dia.
Ahok mendesak Kementerian Agama mengubah sistem tersebut dengan memprioritaskan jamaah yang belum pernah pergi haji, dan menolak siapa pun yang ingin pergi haji untuk kesekian kalinya. Sebab, kesempatan beribadah harus dibagi kepada mereka yang belum melaksanakannya, supaya bisa mengurangi banyaknya antrean.
Dari pihaknya sendiri, Ahok mengaku telah membatasi jumlah orang dalam Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD), yang dikirim untuk mendampingi jamaah haji asal DKI. Aturannya hanya petugas yang belum pernah pergi menunaikan ibadah haji yang boleh jadi pendamping.
"Harusnya ada sistem yang bisa mengatur untuk membatasi orang yang sudah pernah ibadah haji, jadi antrean tidak terlalu lama nunggu. Selain adil, kita kasih kesempatan buat mereka tunaikan ibadah haji sambil tugas, pungkasnya.
No comments:
Post a Comment