Monday, September 7, 2015

Asian Games, Ahok Kepincut Tawaran Velodrome Dubes Inggris

Asian Games, Ahok Kepincut Tawaran Velodrome Dubes Inggris
Suasana upacara penutupan Asian Games ke-17 di Incheon, Korea Selatan, 4 Oktober 2014.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menerima kedatangan Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik di Balai Kota, Senin, 7 September 2015. Malik membawa proposal dan desain velodrome alias stadion balap sepeda berstandar Olimpiade yang pernah digunakan saat Olimpiade London, tiga tahun lalu. Arena velodrome di London diberi nama Lee Valley Velopark dengan kapasitas 6.000 penonton.

"Kami berpengalaman membangun arena berkelas internasional dan coba tawarkan ke Gubernur yang akan menggelar Asian Games 2018," kata Malik saat bertemu dengan Ahok.

Malik menjelaskan, kalau tertarik dengan tawarannya, Pemerintah Provinsi DKI harus segera melakukan langkah kongkret. Setidaknya, ucap dia, Pemprov DKI sudah dilakukan tender proyek pada tahun ini. "Jika waktunya terbatas, kami akan kesulitan mewujudkan rencana itu," ujar Malik.

Tawaran itu disambut positif oleh Ahok. Sebab, dia melihat desain velodrome di London sangat berkualitas dan memenuhi standar internasional. Lebih-lebih, arena itu di London dibangun berkonsep tertutup alias indoor dengan lintasan dari parquet atau lantai kayu.

Ahok mengaku makin semangat merealisasikan tawaran Malik lantaran biaya yang dikeluarkan untuk membangun satu velodrome berstandar internasional diperkirakan cuma US$ 15 juta atau sekitar Rp 214 miliar. "Sementara Dinas Olahraga menganggarkan Rp 450 miliar untuk membangunvelodrome baru di bekas arena Rawamangun," tutur Ahok.

Dia menjelaskan, membangun kompleks olahraga internasional sama seperti investasi. Bila arena yang dibangun berkualitas Olimpiade, atlet Indonesia tak akan malas-malasan berlatih saban hari.

Velodrome Rawamangun memang bakal diratakan dengan tanah untuk dibangun arena balap sepeda baru. Proyek itu dikerjakan menyambut pesta olahraga se-Asia alias Asian Games 2018. Tahun ini, pembongkaran velodrome lama ditargetkan selesai.

 Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama santai soal banyak kelompok menganggapnya tak berpeluang maju dan memenangi pemilihan Gubernur DKI dua tahun mendatang. Justru Ahok lebih senang dianggap sebagai kuda hitam alias penantang yang tak diperhitungkan tapi bisa membalik semua prediksi. 

“Kalau kalah, santai saja, karena dari awal memang tak diunggulkan,” katanya di Balai Kota, Senin, 7 September 2015.

Ahok menanggapi komentar Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Gerakan Indonesia Raya DKI Jakarta Mohamad Taufik yang menyebut gubernur berusia 49 tahun itu pasti kalah bersaing jika maju sebagai kandidat orang nomor 1 di Ibu kota. Politikus yang juga menjabat Wakil Ketua DPRD itu menjelaskan, Ahok tak cukup percaya diri maju sebagai calon Gubernur DKI.

Ahok menganalogikan persaingan pemilihan Gubernur DKI 2017 bak permainan sepak bola. Menurut dia, ada tim yang diunggulkan, ada juga tim kuda hitam yang dianggap remeh seperti dia. Permainan menjadi seru bila tim kuda hitam bisa memenangi pertandingan. “Biar malunya tim unggulan itu berlipat ganda saat ditekuk kuda hitam,” tutur Ahok.

Persaingan menuju kursi DKI-1 makin ramai beredar rumor bahwa Sandiaga Uno akan maju sebagai calon Gubernur DKI. Pengusaha itu digadang-gadang berpasangan dengan Triwisaksana dari Partai Keadilan Sejahtera. Gambar keduanya berpasangan sedang ramai diperbincangkan di media sosial.

Adapun Muhamad Taufik tak membantah kabar bahwa Sandiaga Uno digadang-gadang bakal dicalonkan menjadi Gubernur DKI. Menurut dia, Sandiaga memenuhi semua syarat menjadi DKI-1. "Dia orang muda yang cerdas, santun, dan sudah jadi pengusaha sukses," katanya di gedung DPRD, Senin, 7 September 2015.

No comments:

Post a Comment