Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama bersama Kepala Dinas Perumahan dan Gedung Pemda DKI Ika Lestari Aji, Wali Kota Jakarta Timur Bambang Musyawardhana, Ketua Penggerak TP PKK DKI Veronica Tan, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK DKI Happy Djarot Saiful, dan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) DKI Dien Emmawati saat meresmikan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Rusun Pulogebang, di Jakarta Timur, Rabu (23/12/2015).
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama langsung memanggil Wali Kota Jakarta Timur Bambang Musyawardhana ketika wartawan bertanya mengenai ditemukannya ayam tiren atau ayam bangkai beredar di Cakung.
Bambang pun langsung sigap berdiri di samping Basuki. "Nah ini nih, pak wali kota, RT/RW harus difungsikan," kata Basuki kepada Bambang di Rusun Pulogebang, Rabu (23/12/2015).
Bambang pun mengiyakan perintah Basuki. "Iya, Pak, siap, enjih(bahasa Jawa yang artinya iya)," ujar Bambang. (Baca: Jelang Natal dan Tahun Baru, Waspadai Peredaran Daging Celeng dan Ayam Tiren)
Menurut Basuki, RT/RW seharusnya paling mengenal wilayah mereka sehingga mengetahui adanya aktivitas warga yang mengelola barang ilegal atau berbahaya seperti ayam tiren.
"Jadi tolong RT/RW, kecamatan, Satpol PP, semua harus turun. Masa camat enggak tahu wilayahnya? kan kacau. Kalau Lurah enggak tahu ada ayam tiren, berarti lurahnya enggak becus," kata Basuki.
Pada 14 Desember 2015, aparat Polsek Cakung menggeledah gudang penyimpanan ayam tiren di Jalan Rawa Sumur, Kawasan Industri Pulogadung (KIP) Jakarta Timur.
Dalam penggeledahan itu, polisi mengamankan tiga tersangka. Salah seorang pelaku mengaku mengedarkan ayam tiren tersebut ke Pasar Klender di Jakarta Timur. (Baca: Sudin KPKP Akui Kecolongan Awasi Ayam Tiren)
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menceritakan pengalamannya beberapa kali menghadapi pedagang yang menjual makanan berformalin. Kejadian-kejadian tersebut kecil namun sering terjadi.
"Dulu kita kumpulin dana untuk yayasan kanker, bikin bazar, eh malah makanannya mengandung formalin," ujar Ahok (sapaan Basuki) ketika memberi sambutan dalam penghargaan kantin sekolah sehata di Balai Kota DKI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Rabu (23/12/2015).
Dia juga pernah mengadakan jamuan makan di rumah dinasnya dengan mengundang anggota DPRD DKI. Ketika itu, dia berencana menyajikan mie belitung yang dia rekomendasikan.
Namun, sajian mie tersebut kurang sempurna karena tidak menggunakan tahu. Tahu yang telah dibeli untuk bahan pembuatan mie tersebut malah mengandung formalin dan tidak bisa dipakai.
Ahok mengatakan Pemerintah Provinsi DKI pernah menelusuri tahu berformalin yang mereka uji. Ternyata, pabrik tahu tersebut berlokasi di Bekasi.
Pemilik pabrik tersebut sempat ditanya kenapa menggunakan bahan formalin. Jawaban si pemilik pabrik sangat mengejutkan.
"Tahu enggak dia ngomong apa yang punya pabrik tahu? Katanya kalau enggak pakai formalin, tahunya keburu rusak, dia makan tahu itu tiap hari juga engga sakit katanya," ujar Ahok.
Ketika bulan puasa, Ahok juga pernah sidak makanan yang mengandung bahan berbahaya di Bendungan Hilir bersama BPOM DKI. Di sana, dia sudah mengingatkan kepada pedagang untuk tidak menjual tahu berformalin.
Pedagang yang ditegur Ahok pun nurut dan menyingkirkan dagangannya. Namun, setelah Ahok tidak lagi berada di dekat lapak pedagang itu, tahu berformalin kembali dijajakan.
Ketika Ahok menanyakan kembali, pedagang itu berkata takut rugi jika makanan berformalin itu tidak laku dijual. Ahokmengaku kesal ketika mengingat kejadian itu.
"Ini bukannya saya tausiyah siang-siang begini ya. Maksudnya mau puasa, lapar-lapar begitu, ibadah, tapi anda malah biarkan orang dibunuh karena makanan itu, sia-sia ibadahnya," ujarAhok.
No comments:
Post a Comment