Jelang tahun baru 2016, Pemprov DKI sudah berkoordinasi untuk mengantisipasi adanya gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat. Pasalnya ada sejumlah hari besar yang waktunya berdekatan di akhir tahun ini.
"Kemarin sudah bicara, kita antisipasi pergantian akhir tahun karena ada beberapa hari besar yang berhimpitan, 24 desember Maulid Nabi, 25 Desember Natal, besoknya lagi tahun baru. Kami sudah antisipasi itu," ungkap Wagub DKI Djarot Saiful Hidayat.
Hal tersebut disampaikannya dalam acara rakor yang diinisiasi DPD RI dengan tema 'Kebijakan Menghadapi Konflik SARA dan Bahaya Terorisme di Ibukota Negara DKI Jakarta. Rakor digelar di Hotel Royal Kuningan, Setiabudi, Jaksel, Sabtu (12/12/2015).
Menurut Djarot, kondisi keamanan di Jakarta terkait konflik SARA dan bahaya terorisme cenderung membaik. Pemprov DKI sendiri menerapkan pendekatan kepada masyarakat dalam mengantisipasi ancaman kedua isu tersebut.
"Yang kita pantau dari forum kewaspadaan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat sampai saat ini masih relatif baik, aman. Tapi disampaikan jangan membuat lengah dan tidak waspada. Melalui forum kewaspadaan ini, kami mendapatkan masukan selama ini insya allah baik," ujar Djarot.
"Kunci komunikasi termasuk juga kita perintahkan setiap lurah hari Jumat keliling dari RW ke RW untuk bisa mendeteksi apa persoalan masing-masing di RW itu. Kami juga setiap minggu turun ke kecamatan yang kita anggap rawan," sambungnya.
Senada dengan Djarot, Ketua DPD Irman Gusman yang membuka rakor tersebut juga menyatakan saat ini keamanan terkait aksi teror di Jakarta sudah meningkat. Namun setelah adanya insiden teror di Paris, Irman menyebut perlu ada langkah antisipatif khususnya di Ibukota.
"Alhamdulillah 4-5 tahun terakhir setelah kejadian teror di Jakarta sudah baik tetapi melihat perkembangan yang ada sekarang terakhir di Paris. Kita harus waspada, oleh karena itu kami dengan Pemda DKI mengintensifkan komunikasi supaya keamanan dari aksi teror dikelola dengan baik," jelas Irman di lokasi yang sama.
DPD pun berharap agar Pemda DKI memperhatikan dan juga mengidentifikasi potensi adanya aksi teror ke depan. Pasalnya Jakarta memiliki sejarah menjadi tempat yang disasar oleh teroris.
"Itu kenyataan ada, sebab Paris kota besar saja bisa kecolongan. Kalau kita lihat berbagai teror di Indonesia, 80 persen di Jakarta. Ini pandangan saya dari DPD, kami mengadakan pertemuan bersama stakeholder dan tokoh masyarakat dalam rangka meningkatkan penyadaran kebersamaan terhadap potensi dan munculnya bahaya terorisme," tukas senator dapil Sumbar itu.
Selain mengundang Pemprov DKI, DPD juga mengajak perwakilan dari Polda Metro Jaya, Kodam Jaya, dan sejumlah ormas keagamaan dalam forum diskusi itu. Turut hadir pula Kepala BNPT Saud Usman yang didapuk untuk menjadi salah satu pembicara.
"Kemarin sudah bicara, kita antisipasi pergantian akhir tahun karena ada beberapa hari besar yang berhimpitan, 24 desember Maulid Nabi, 25 Desember Natal, besoknya lagi tahun baru. Kami sudah antisipasi itu," ungkap Wagub DKI Djarot Saiful Hidayat.
Hal tersebut disampaikannya dalam acara rakor yang diinisiasi DPD RI dengan tema 'Kebijakan Menghadapi Konflik SARA dan Bahaya Terorisme di Ibukota Negara DKI Jakarta. Rakor digelar di Hotel Royal Kuningan, Setiabudi, Jaksel, Sabtu (12/12/2015).
Menurut Djarot, kondisi keamanan di Jakarta terkait konflik SARA dan bahaya terorisme cenderung membaik. Pemprov DKI sendiri menerapkan pendekatan kepada masyarakat dalam mengantisipasi ancaman kedua isu tersebut.
"Yang kita pantau dari forum kewaspadaan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat sampai saat ini masih relatif baik, aman. Tapi disampaikan jangan membuat lengah dan tidak waspada. Melalui forum kewaspadaan ini, kami mendapatkan masukan selama ini insya allah baik," ujar Djarot.
"Kunci komunikasi termasuk juga kita perintahkan setiap lurah hari Jumat keliling dari RW ke RW untuk bisa mendeteksi apa persoalan masing-masing di RW itu. Kami juga setiap minggu turun ke kecamatan yang kita anggap rawan," sambungnya.
Senada dengan Djarot, Ketua DPD Irman Gusman yang membuka rakor tersebut juga menyatakan saat ini keamanan terkait aksi teror di Jakarta sudah meningkat. Namun setelah adanya insiden teror di Paris, Irman menyebut perlu ada langkah antisipatif khususnya di Ibukota.
"Alhamdulillah 4-5 tahun terakhir setelah kejadian teror di Jakarta sudah baik tetapi melihat perkembangan yang ada sekarang terakhir di Paris. Kita harus waspada, oleh karena itu kami dengan Pemda DKI mengintensifkan komunikasi supaya keamanan dari aksi teror dikelola dengan baik," jelas Irman di lokasi yang sama.
DPD pun berharap agar Pemda DKI memperhatikan dan juga mengidentifikasi potensi adanya aksi teror ke depan. Pasalnya Jakarta memiliki sejarah menjadi tempat yang disasar oleh teroris.
"Itu kenyataan ada, sebab Paris kota besar saja bisa kecolongan. Kalau kita lihat berbagai teror di Indonesia, 80 persen di Jakarta. Ini pandangan saya dari DPD, kami mengadakan pertemuan bersama stakeholder dan tokoh masyarakat dalam rangka meningkatkan penyadaran kebersamaan terhadap potensi dan munculnya bahaya terorisme," tukas senator dapil Sumbar itu.
Selain mengundang Pemprov DKI, DPD juga mengajak perwakilan dari Polda Metro Jaya, Kodam Jaya, dan sejumlah ormas keagamaan dalam forum diskusi itu. Turut hadir pula Kepala BNPT Saud Usman yang didapuk untuk menjadi salah satu pembicara.
No comments:
Post a Comment