Saturday, December 12, 2015

Bertemu Jokowi, Kompasianer Ini Keluhkan Pelayanan KBRI di Hongkong

Abba Gabrillin
Para Kompasianer mendapat pengarahan sebelum memasuki Istana Negara, Sabtu (12/12/2015).


Fera Nuraini, termasuk menjadi salah satu Kompasianer yang menghadiri undangan Presiden Joko Widodo untuk makan siang di Istana Negara, Sabtu (12/12/2015).

Dalam pertemuan tersebut, Fera berkesempatan menyampaikan aspirasinya secara langsung kepada Presiden.

Fera adalah seorang mantan buruh migran yang bekerja selama 10 tahun di Hongkong. 

Sambil meneteskan air mata, Fera mengeluhkan pelayanan kurang baik dari para staf Kedutaan Besar RI di Hongkong, khususnya terhadap para tenaga kerja asal Indonesia. 

"Pelayananan KBRI di sana masih kurang. Bagaimana Bapak bisa mengatasi ini. Semoga perlindungan buruh migran bisa ditingkatkan," ujar Fera kepada Jokowi di Istana Negara. 

Menjawab hal tersebut, Jokowi mengakui bahwa mengubah pola pikir, pandangan dan kesadaran adalah hal yang sulit dilakukan. 

Menurut Jokowi, menimbulkan kesadaran untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat tidak dapat dilakukan dalam waktu cepat. 

"Waktu saya wali kota, sudah 3 tahun, kesadaran baru 60 persen. Waktu saya gubernur, namanya e-budgeting, 2 tahun gagal. Diteruskan Pak Ahok, gagal juga," kata Jokowi.

Jokowi menyadari bahwa pelayanan adalah harapan masyarakat. Namun, perubahan tetap membutuhkan waktu.

Menurut Jokowi, hal tersebut harus diatasi dengan merubah sistem, budaya dan etos kerja para pejabat pemerintah. 
Abba Gabrillin
Kompasianer saat berkunjung ke Istana Negara, Sabtu (12/12/2015).
Jokowi kemudian memberikan alasannya mengapa ia sering turun langsung untuk memeriksa keadaan sesungguhnya yang dirasakan masyarakat. 

"Harus ada yang mengontrol langsung. Setiap saya turun ke lapangan, pasti ada yang bisikin saya, 'Pak di sana itu ada yang tidak benar'," ujar Jokowi.

Rangkaian puncak acara ulang tahun ke-7 Kompasiana dalam Kompasianival 2015 memiliki beberapa kegiatan. 

Salah satunya, para penulis Kompasiana atau akrab disapa Kompasianer, datang memenuhi undangan jamuan makan siang Presiden Joko Widodo di Istana Negara. 

Dalam pertemuan dengan Kompasianer, Jokowi memberikan beberapa pengingat dalam menulis artikel. Salah satunya, ia meminta agar tulisan Kompasianer dapat membangkitkan optimisme publik. 

"Tulisan seharusnya bisa membuat optimisme publik. Dorongan integritas, makna etos kerja dan berisi harapan-harapan ke depan yang cerah," ujar Jokowi di Istana Negara, Sabtu (12/12/2015).

Jokowi berpesan agar tulisan para blogger tidak menimbulkan pesimisme publik yang pada akhirnya justru menimbulkan keresahan dan kekhawatiran masyarakat. 

Jokowi juga meminta agar tulisan menggunakan kata-kata yang santun, sehingga tidak mengundang komentar negatif. 

Menurut Jokowi, saat ini Indonesia tengah bersiap-siap menuju komunitas pasar bebas, atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). 

Tanpa ada kepercayaan dan rasa percaya diri, mustahil Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara berkembang lainnya, kata Jokowi.

"Persaingan kita sudah antarnegara. Dua pekan lagi MEA, kita akan masuk ke era kompetisi, maka kita harus lebih santun," kata Jokowi. 

Jokowi meminta agar komunitas media sosial benar-benar berperan untuk menumbuhkan kepercayaan diri publik. Misalnya, meningkatkan kepercayaan terhadap upaya perbaikan ekonomi yang diupayakan pemerintah. 

"Saya anti ngomong hal-hal yang pesimis, negatif. Kalau ada kendala, itu tantangan yang harus kita selesaikan," kata Jokowi.

No comments:

Post a Comment