Tuesday, December 29, 2015

Tak Puas Kajian Masela, Jokowi Panggil Kontraktor

Presiden Joko Widodo akan meminta penjelasan kontraktor kontrak kerja sama Blok Masela, Inpex Masela Ltd, terkait rencana pengelolaan Blok Masela di Laut Arafuru, Maluku. 

Keputusan pengelolaan akan diambil setelah Jokowi mendengar penjelasan dari kontraktor. 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Saidmenjelaskan, Jokowi ingin mendengar penjelasan kontraktor mengenai untung dan rugi jika membangun kilang gas cair (LNG) terapung di tengah laut (floating) atau offshore dan jika membangun pembangunan pipa ke Pulau Saumlaki dan kilang LNG di darat (onshore).

Rekomendasi dari tim independen adalah pembangunan kilang dilakukan secara offshore

"Pendekatan offshore atau onshore memiliki plus dan minus. Presiden minta keputusannya benar dan hati-hati," kata Sudirman, seusai rapat dengan Presiden, di Istana, Jakarta, Selasa (29/12/2015). 

Ia mengatakan bahwa Jokowi meminta kontraktor segera memberikan penjelasan. 

Rencananya, kontraktor Blok Masela akan dilaksanakan awal Januari 2016 atau setelah Jokowi kembali dari kunjungan kerja ke Papua.

Sudirman menegaskan, Jokowi ingin pengelolaan Blok Masela juga mempertimbangkan pembangunan daerah.

Menurut Sudirman, hal ini sesuai dengan keinginan Jokowi membangun Indonesia dari pinggiran. 

"Kita ingin mencari solusi, supaya investasi tetap berjalan, tapi aspek pembangunan regional bisa tetap berjalan," ujarnya.

Sudirman mengungkapkan bahwa pembangunan Blok Mahakam bisa dilakukan sekitar tahun 2020. 

Ia juga memastikan daerah akan mendapat 10 persenparticipation interesting jika plan of development disetujui.

Nasib proyek lapangan gas abadi Blok Masela belum juga diputuskan meski Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah mendengar paparan hasil kajian tim independen. 

Kajian tersebut dipaparkan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Sudirman Said dalam rapat terbatas kabinet kerja.

Usai rapat terbatas, Sudirman mengatakan hasil kajian menyebutkan pengembangan Blok Masela harus menggunakan fasilitas terapung (floating storage regasification unit) aliasoffshore. Tetapi, Jokowi nampaknya belum puas dengan penjelasan tersebut.

Terlebih, ada dua pendapat yang berbeda dalam rapat terbatas tersebut. Menteri Koordinator bidang Maritim Rizal Ramlimenginginkan pembangunan menggunakan fasilitas darat dengan pipa alias onshore. (baca: Rizal Ramli Minta Pengembangan "Blok Gas Abadi" Dikaji Ulang)

Untuk itu, keputusan akhir mengenai Blok Masela akan diputuskan Jokowi dengan terlebih dahulu memanggil kontraktor. Kontraktor kontrak kerjasama (KKKS) yakni Inpex Masela Ltd rencananya akan dipanggil setelah Jokowi melakukan kunjungan kerja ke Papua.

Menurut Sudirman, memang ada aspek lain yang sedang dipertimbangkan pemerintah selain keuntungan ekonomis. Pertimbangan itu antara lain soal pembangunan daerah.

"Bagaimana caranya kontraktor tidak dirugikan secara finansial, tetapi pembangunan kewilayahan dilaksanakan," kata Sudirman, Selasa (29/12/2015) di Istana Negara, Jakarta.

Aspek pembangunan daerah itu antara lain meliputi pembangunan industri di Indonesia bagian Timur, seperti industri pupuk, listrik dan lainnya. Rencananya, jika keputusan proyek ini dilakukan saat ini maka tahun 2016 akan dilakukan study engineering dan lainnya sampai 2018.

Lalu, tahun 2019 akan dimulai pengadaan dan kemudian tahun 2020 pengerjaan proyek baru dilakukan. Jokowi sendiri mengingatkan, semua pihak untuk mempertimbangkan keputusan proyek ini secara matang, jangan terburu-buru. 

No comments:

Post a Comment