Warga memukul pohon saat terjadi gerhana. Hal itu dilakukan karena meyakini bahwa pohon-pohon akan berbuah dengan lebat dan tidak mati jika dipukul saat gerhana terjadi.
Peristiwa gerhana sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia sehingga hadir dalam beragam cerita rakyat setempat.
Di Kabupaten Jember, Jawa Timur, misalnya, saat terjadi gerhana, warga yang tinggal di daerah pedesaan akan keluar rumah sambil mengajak anak-anak yang masih kecil lalu memegangi kepala mereka dan mengangkatnya tinggi- tinggi.
Menurut Laili, warga Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung, kepala anak-anak tersebut diangkat agar anak itu badannya semakin tinggi.
“Kata orang sini, kalau pas terjadi gerhana, berarti bulan ataupun mataharinya sedang sakit. Orang di sini menyebutnya bulen gerring (bulan sakit),” ungkapnya.
Pada saat kondisi matahari maupun sedang sakit itulah, anak-anak diangkat tinggi-tinggi sambil dipegangi kepalanya.
“Jadi mumpung tidak ketahuan bulan maupun mataharinya,” katanya.
Selain cerita tersebut, saat terjadi gerhana, biasanya warga akan keluar rumah lalu memukul- mukul pohon yang ada di sekitar pekarangannya.
“Dipukul itu maksudnya agar pohon itu bangun dan tidak mati. Kata orang sini karena kondisinya gelap saat gerhana jadi takut kaget pohonnya, makanya dibangunkan,” ujarnya.
Sugeng Prayitno, warga Desa Patemon, Kecamatan Tanggul, mengaku, di rumahnya juga terdapat cerita yang sama saat terjadi gerhana.
“Jadi orang sekampung saya biasanya keluar rumah, lalu memukul-mukul pohon yang dimilikinya. Saya enggak tahu juga, kenapa harus dibangunkan. Tapi kata orang yang sudah sepuh, biar pohonnya berbuah lebat, makanya diikuti saja,” terang Prayitno.
Yang berbeda, lanjut Prayitno, saat terjadi gerhana, anak-anak kecil diminta bergelantungan di di pintu rumah.
“Ya bergelantungan begitu, katanya biar cepat tinggi. Sebenarnya maknanya sama agar anak- anak kecil biar cepat tinggi,” lanjutnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember, Sandi Suwardi Hasan, mengatakan, banyak cerita rakyat saat terjadi gerhana.
“Saya pikir ini adalah kekayaan bangsa kita karena bangsa lain tidak akan memiliki cerita seperti ini,” ujarnya.
Secara umum, lanjut Sandi, cerita rakyat yang sering didengarkan saat terjadi gerhana, hampir sama.
“Mayoritas begitu, jadi keluar rumah, kemudian memukul-mukul agar cepat berbuah, dan tidak mati, serta meminta anak keluar rumah kemudian ditarik kepalanya agar cepat tinggi,” katanya.
Dia menambahkan, ada cerita lain yang berkembang di masyarakat saat terjadi gerhana. Dia menuturkan, saat gerhana tiba, seorang wanita hamil harus bersembunyi di bawah kolong tempat tidur.
“Jadi kata orang, saat terjadi gerhana, matahari atau bulannya dimakan buto (mahluk halus). Karena bayi dalam kandungannya takut dimakan buto itu, makanya harus bersembunyi di bawah kolong tempat tidur,” ungkap Sandi.
No comments:
Post a Comment