Saat partai politik dinilai tak lagi memikat, publik merekomendasikan calon yang akan maju dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta agar melalui jalur independen.
Sejauh ini, calon independen paling kuat masih dipegang Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.
Demikian hasil survei bertajuk "Calon Independen vis-a-vis Calon Partai" yang diselenggarakan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang dirilis, Senin (25/1), di Jakarta.
Pengumpulan data dilaksanakan pada 5-10 Januari 2016 terhadap 400 responden secara acak di lima wilayah kota Jakarta.
Penarikan sampel dilakukan dengan mempertimbangkan proporsi antara jumlah sample dan jumlah pemilih di setiap kota.
Peneliti CSIS, Arya Fernandes, mengungkapkan, berdasarkan survei, sebanyak 54,75 persen responden merekomendasikan calon maju melalui jalur independen.
Ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 38,50 persen responden yang merekomendasikan calon maju melalui jalur partai politik.
"Angka ini cukup besar. Publik rupanya masih memiliki tingkat kepercayaan yang lemah kepada partai politik. Mereka juga menilai kinerja partai politik, yang terwakili dalam DPRD DKI Jakarta, kurang baik," kata Arya.
Menurut Arya, fenomena yang terjadi di beberapa daerah saat pilkada turut memengaruhi preferensi responden, yaitu adanya politik transaksional dalam pencalonan kepala daerah.
Kendati demikian, hasil survei bisa saja berubah jika ada partai politik yang sudah terang-terangan mendeklarasikan calonnya.
Sampai saat ini, belum ada partai politik yang mendeklarasikan calon yang memiliki potensi menjadi lawan Basuki.
Hasil survei menunjukkan, sebanyak 63 persen responden setuju terhadap pilihan Basuki untuk mencalonkan diri melalui jalur independen.
"Saat kami lakukan tabulasi silang antara pilihan partai dan sikap terhadap calon independen, kami temukan bahwa sebanyak 21,8 persen memilih PDI Perjuangan, disusul Partai Gerindra 14,5 persen. Dari 21,8 persen pemilih PDI-P, sebanyak 62 persen di antaranya lebih memilih calon yang maju melalui jalur independen," tutur Arya.
Saat diberi pertanyaan, apabila partai pilihan Anda mengajukan calon lain yang bukan Basuki, apakah Anda akan tetap memilih Basuki, sebanyak 72,68 persen responden menjawab ya, dibandingkan 12,37 persen yang tidak.
Popularitas
Dari survei tersebut, terlihat pula bahwa tingkat popularitas tertinggi calon gubernur DKI Jakarta diraih oleh Basuki (94 persen), disusul Tantowi Yahya (81 persen) dan Ridwan Kamil(71,25 persen).
Dalam survei tingkat keterpilihan calon gubernur DKI dengan simulasi 12 nama, Basuki menduduki peringkat teratas dengan 43,25 persen, disusul Ridwan Kamil 17,25 persen, Tri Rismaharini8 persen, dan Adhyaksa Dault 4,25 persen.
"Hingga kini, belum ada tokoh yang namanya sudah melekat dalam ingatan publik untuk menjadi gubernur DKI Jakarta selain Basuki. Saat menguji dengan 12 nama disertai foto calon, 43,25 persen tetap mengaku akan memilih Basuki. Bahkan, saat dilakukan simulasi dengan siapa pun, tingkat keterpilihan Basuki sudah berada di atas 45 persen," papar Arya.
Direktur Eksekutif CSIS Philips Vermonte mengatakan, pemilih Jakarta saat ini relatif rasional. Ini dilihat dari kemampuan mereka mengevaluasi kinerja dibandingkan dengan pilihan mereka.
"Kalau baik, dipilih lagi. Kalau tidak baik, pilih yang lain. Hasil survei ini membuka ruang tafsir baru terhadap independen vis-a-vis partai politik. Penting bagi partai politik untuk segera mengumumkan calon mereka karena publik bisa ikut mengevaluasi," tuturnya.
Dia menambahkan, jika partai politik terlambat mengumumkan calon dalam Pilkada DKI, bukan tidak mungkin situasi kampanye pilkada tahun 2012 yang sarat isu primordialisme terulang lagi.
Sebagai calon independen yang populer dan petahana, lanjut Philips, posisi Basuki lebih diuntungkan.
"Agak sulit bagi calon lain mengejar popularitas dan tingkat elektabilitas Basuki, kecuali partai politik bergerak cepat, tidak mepet mengumumkan calon, dan tidak ada mahar dalam pencalonan. Masih ada waktu setahun lagi. Jadi, pekerjaan rumah partai adalah untuk mendapatkan kepercayaan publik DKI," ungkap Philips.
Undang Teman Ahok
Terkait pemilihan kepala daerah DKI Jakarta 2017, relawan pendukung Gubernur Basuki Tjahaja Purnama yang tergabung dalam Teman Ahok menyatakan telah mengumpulkan 627.854 kartu tanda penduduk (KTP) untuk mendukung Basuki maju sebagai calon independen.
Sejumlah aktivis Teman Ahok datang ke Balai Kota Jakarta, Senin siang, untuk bertemu Basuki.
"Kami baru sekali ini ketemu. Sekadar mengobrol santai dan kami sampaikan bahwa jumlah KTP terkumpul sudah cukup untuk mencalonkan diri melalui jalur independen," kata pendiri sekaligus juru bicara Teman Ahok, Amalia Ayuningtyas.
Amalia menyebutkan, sesuai ketentuan, dukungan minimal untuk mencalonkan diri sebagai calon gubernur adalah 7,5 persen dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT).
Dengan mengacu DPT Pilkada DKI Jakarta 2012 yang 6,9 juta pemilih, dibutuhkan dukungan sekitar 525.000 KTP. Meski demikian, Teman Ahok menargetkan 1 juta KTP.
"Kami mengantisipasi verifikasi dukungan oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum)," ujarnya.
Dalam pertemuan itu, Teman Ahok menegaskan soal calon pasangan Basuki. Menurut Amalia, Basuki menyatakan beberapa kriteria, antara lain tidak rewel, bisa bekerja keras, dan mampu beriringan mewujudkan Jakarta baru.
Sejauh ini, calon independen paling kuat masih dipegang Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.
Demikian hasil survei bertajuk "Calon Independen vis-a-vis Calon Partai" yang diselenggarakan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang dirilis, Senin (25/1), di Jakarta.
Pengumpulan data dilaksanakan pada 5-10 Januari 2016 terhadap 400 responden secara acak di lima wilayah kota Jakarta.
Penarikan sampel dilakukan dengan mempertimbangkan proporsi antara jumlah sample dan jumlah pemilih di setiap kota.
Peneliti CSIS, Arya Fernandes, mengungkapkan, berdasarkan survei, sebanyak 54,75 persen responden merekomendasikan calon maju melalui jalur independen.
Ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 38,50 persen responden yang merekomendasikan calon maju melalui jalur partai politik.
"Angka ini cukup besar. Publik rupanya masih memiliki tingkat kepercayaan yang lemah kepada partai politik. Mereka juga menilai kinerja partai politik, yang terwakili dalam DPRD DKI Jakarta, kurang baik," kata Arya.
Menurut Arya, fenomena yang terjadi di beberapa daerah saat pilkada turut memengaruhi preferensi responden, yaitu adanya politik transaksional dalam pencalonan kepala daerah.
Kendati demikian, hasil survei bisa saja berubah jika ada partai politik yang sudah terang-terangan mendeklarasikan calonnya.
Sampai saat ini, belum ada partai politik yang mendeklarasikan calon yang memiliki potensi menjadi lawan Basuki.
Hasil survei menunjukkan, sebanyak 63 persen responden setuju terhadap pilihan Basuki untuk mencalonkan diri melalui jalur independen.
"Saat kami lakukan tabulasi silang antara pilihan partai dan sikap terhadap calon independen, kami temukan bahwa sebanyak 21,8 persen memilih PDI Perjuangan, disusul Partai Gerindra 14,5 persen. Dari 21,8 persen pemilih PDI-P, sebanyak 62 persen di antaranya lebih memilih calon yang maju melalui jalur independen," tutur Arya.
Saat diberi pertanyaan, apabila partai pilihan Anda mengajukan calon lain yang bukan Basuki, apakah Anda akan tetap memilih Basuki, sebanyak 72,68 persen responden menjawab ya, dibandingkan 12,37 persen yang tidak.
Popularitas
Dari survei tersebut, terlihat pula bahwa tingkat popularitas tertinggi calon gubernur DKI Jakarta diraih oleh Basuki (94 persen), disusul Tantowi Yahya (81 persen) dan Ridwan Kamil(71,25 persen).
Dalam survei tingkat keterpilihan calon gubernur DKI dengan simulasi 12 nama, Basuki menduduki peringkat teratas dengan 43,25 persen, disusul Ridwan Kamil 17,25 persen, Tri Rismaharini8 persen, dan Adhyaksa Dault 4,25 persen.
"Hingga kini, belum ada tokoh yang namanya sudah melekat dalam ingatan publik untuk menjadi gubernur DKI Jakarta selain Basuki. Saat menguji dengan 12 nama disertai foto calon, 43,25 persen tetap mengaku akan memilih Basuki. Bahkan, saat dilakukan simulasi dengan siapa pun, tingkat keterpilihan Basuki sudah berada di atas 45 persen," papar Arya.
Direktur Eksekutif CSIS Philips Vermonte mengatakan, pemilih Jakarta saat ini relatif rasional. Ini dilihat dari kemampuan mereka mengevaluasi kinerja dibandingkan dengan pilihan mereka.
"Kalau baik, dipilih lagi. Kalau tidak baik, pilih yang lain. Hasil survei ini membuka ruang tafsir baru terhadap independen vis-a-vis partai politik. Penting bagi partai politik untuk segera mengumumkan calon mereka karena publik bisa ikut mengevaluasi," tuturnya.
Dia menambahkan, jika partai politik terlambat mengumumkan calon dalam Pilkada DKI, bukan tidak mungkin situasi kampanye pilkada tahun 2012 yang sarat isu primordialisme terulang lagi.
Sebagai calon independen yang populer dan petahana, lanjut Philips, posisi Basuki lebih diuntungkan.
"Agak sulit bagi calon lain mengejar popularitas dan tingkat elektabilitas Basuki, kecuali partai politik bergerak cepat, tidak mepet mengumumkan calon, dan tidak ada mahar dalam pencalonan. Masih ada waktu setahun lagi. Jadi, pekerjaan rumah partai adalah untuk mendapatkan kepercayaan publik DKI," ungkap Philips.
Undang Teman Ahok
Terkait pemilihan kepala daerah DKI Jakarta 2017, relawan pendukung Gubernur Basuki Tjahaja Purnama yang tergabung dalam Teman Ahok menyatakan telah mengumpulkan 627.854 kartu tanda penduduk (KTP) untuk mendukung Basuki maju sebagai calon independen.
Sejumlah aktivis Teman Ahok datang ke Balai Kota Jakarta, Senin siang, untuk bertemu Basuki.
"Kami baru sekali ini ketemu. Sekadar mengobrol santai dan kami sampaikan bahwa jumlah KTP terkumpul sudah cukup untuk mencalonkan diri melalui jalur independen," kata pendiri sekaligus juru bicara Teman Ahok, Amalia Ayuningtyas.
Amalia menyebutkan, sesuai ketentuan, dukungan minimal untuk mencalonkan diri sebagai calon gubernur adalah 7,5 persen dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT).
Dengan mengacu DPT Pilkada DKI Jakarta 2012 yang 6,9 juta pemilih, dibutuhkan dukungan sekitar 525.000 KTP. Meski demikian, Teman Ahok menargetkan 1 juta KTP.
"Kami mengantisipasi verifikasi dukungan oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum)," ujarnya.
Dalam pertemuan itu, Teman Ahok menegaskan soal calon pasangan Basuki. Menurut Amalia, Basuki menyatakan beberapa kriteria, antara lain tidak rewel, bisa bekerja keras, dan mampu beriringan mewujudkan Jakarta baru.
No comments:
Post a Comment