Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra siap maju Pilgub DKI jika head to head dengan incumbent Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Namun sulit memprediksi bakal terjadi duel di Pilgub DKI.
Hasan Nasbi, Chief Executive Officer (CEO) Cyrus Network, meyakini Ahok akan maju lewat jalur independen. Karena sulit membayangkan Ahok mengabaikan begitu saja ratusan ribu KTP warga DKI yang menginginkannya maju lewat jalur independen.
"Masak Ahok akan mengabaikan dukungan lebih dari 700 ribu, kalau 1 juta dikumpulkan masak tidak dipakai dan bikin mereka kecewa karena yang nyetor KTP itu 95 persen milih. Belum tentu pemilih parpol itu ikut pilihan partainya loh," kata Hasan kepada detikcom, Kamis (4/4/2016).
Nah kalau Ahok maju lewat jalur independen, semakin sulit terjadi head to head atau duel di Pilgub DKI. Karena tak mudah mempersatukan begitu banyak parpol hanya untuk mengusung satu pasangan cagub yang bakal duel dengan Ahok.
"Kalau Ahok independen mungkin sulit kalau lawannya cuma satu karena ada banyak partai. Menyatukan dukungan untuk banyak orang saja repot, kecuali kalau lawan Ahok tangguh, tapi menentukan nomor satu-dua, pengusung utama atau bukan sudah jadi pertengkaran," katanya.
Tentu jika tokohnya kuat bukan tak mungkin parpol mau bersatu. Lalu mungkinkah Yusril mampu mempersatukan parpol untuk menjagokan dirinya jadi lawan tanding tunggal bagi Ahok? Yang jelas sampai saat ini tim Yusril terus melobi parpol-parpol untuk tujuan itu.
Ketum PBB Yusril Ihza Mahendra siap head to head melawan Ahok di Pilgub DKI Jakarta. PKS melihat majunya Yusril membuat demokrasi lebih kompetitif.
"PKS posisinya belum memutuskan apapun sehingga kalau kami membuat demokrasi lebih kompetitif. Ada Ahok, Pak Yusril, Kang Emil dan Sandiaga Uno masyarakat DKI punya alternatif yang baik," kata Wasekjen PKS Mardani Ali Sera ketika berbincang, Kamis (4/2/2016).
Mardani pun menilai masih terlalu dini untuk menyebut duel antara Yusril dan Ahok di Pilgub DKI. Ia mengatakan tidak terlalu mengenal sosok Yusril secara personal.
"Kalau personal, PKS belum terlalu detail melihatnya. Kalau menurut saya masih terlalu dini memastikan head to head. Kalau tidak salah pendaftarannya dari bulan Juni diundur menjadi September," katanya.
Ia menjelaskan saat ini PKS masih dalam proses membahas Pilgub DKI. Ia menegaskan belum menyebut nama.
"Yang jelas karena kita belum sebut nama, belum membahas nama. Kita mendukung sedang dibahas tapi mungkin Maret atau April lebih mengerucut. Kita selalu ikut prosedurnya yang lebih tahu DKI yag menggodognya DPD DKI, baru nanti diserahkan ke DPP," jelasnya.
Hasan Nasbi, Chief Executive Officer (CEO) Cyrus Network, meyakini Ahok akan maju lewat jalur independen. Karena sulit membayangkan Ahok mengabaikan begitu saja ratusan ribu KTP warga DKI yang menginginkannya maju lewat jalur independen.
"Masak Ahok akan mengabaikan dukungan lebih dari 700 ribu, kalau 1 juta dikumpulkan masak tidak dipakai dan bikin mereka kecewa karena yang nyetor KTP itu 95 persen milih. Belum tentu pemilih parpol itu ikut pilihan partainya loh," kata Hasan kepada detikcom, Kamis (4/4/2016).
Nah kalau Ahok maju lewat jalur independen, semakin sulit terjadi head to head atau duel di Pilgub DKI. Karena tak mudah mempersatukan begitu banyak parpol hanya untuk mengusung satu pasangan cagub yang bakal duel dengan Ahok.
"Kalau Ahok independen mungkin sulit kalau lawannya cuma satu karena ada banyak partai. Menyatukan dukungan untuk banyak orang saja repot, kecuali kalau lawan Ahok tangguh, tapi menentukan nomor satu-dua, pengusung utama atau bukan sudah jadi pertengkaran," katanya.
Tentu jika tokohnya kuat bukan tak mungkin parpol mau bersatu. Lalu mungkinkah Yusril mampu mempersatukan parpol untuk menjagokan dirinya jadi lawan tanding tunggal bagi Ahok? Yang jelas sampai saat ini tim Yusril terus melobi parpol-parpol untuk tujuan itu.
Ketum PBB Yusril Ihza Mahendra siap head to head melawan Ahok di Pilgub DKI Jakarta. PKS melihat majunya Yusril membuat demokrasi lebih kompetitif.
"PKS posisinya belum memutuskan apapun sehingga kalau kami membuat demokrasi lebih kompetitif. Ada Ahok, Pak Yusril, Kang Emil dan Sandiaga Uno masyarakat DKI punya alternatif yang baik," kata Wasekjen PKS Mardani Ali Sera ketika berbincang, Kamis (4/2/2016).
Mardani pun menilai masih terlalu dini untuk menyebut duel antara Yusril dan Ahok di Pilgub DKI. Ia mengatakan tidak terlalu mengenal sosok Yusril secara personal.
"Kalau personal, PKS belum terlalu detail melihatnya. Kalau menurut saya masih terlalu dini memastikan head to head. Kalau tidak salah pendaftarannya dari bulan Juni diundur menjadi September," katanya.
Ia menjelaskan saat ini PKS masih dalam proses membahas Pilgub DKI. Ia menegaskan belum menyebut nama.
"Yang jelas karena kita belum sebut nama, belum membahas nama. Kita mendukung sedang dibahas tapi mungkin Maret atau April lebih mengerucut. Kita selalu ikut prosedurnya yang lebih tahu DKI yag menggodognya DPD DKI, baru nanti diserahkan ke DPP," jelasnya.
Pengacara kondang Yusril Ihza Mahendra mengatakan siap bersaing head to head melawan Ahok di Pemilihan Gubernur (pilgub) DKI. PAN belum terpikir mendukung Ketum PBB itu.
"Belum, kita belum bisa mengatakan mendukung siapa karena belum jelas. Pastinya dukungan PAN kepada tokoh yang diterima ke masyarakat DKI. Belum memberikan dukungan pada siapa-siapa, di partai juga belum dibicarakan," ujar Wakil Ketua Umum PAN, Totok Daryanto saat berbincang, Kamis (4/2/2016).
Totok menyebut saat ini partainya belum memberikan dukungan pada siapa pun. Ia pun menolak menyamakan konteks pilgub dengan pilpres tahun 2014.
"Ya bukan soal KMP-KIH kalau DKI ini," tambahnya.
Meski belum mengerucutkan dukungan pada satu nama. Totok menyebut kriteria gubernur yang dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan DKI Jakarta.
"Dia harus punya konsep membangun DKI keluar dari permasalahan DKI seperti macet dan banjir. Kalau Pak Ahok prestasinya biasa saja, belum kelihatan masih ada banjir. Belum signifikan," katanya.
No comments:
Post a Comment