Koalisi Merah Putih (KMP) telah bubar dan parpol anggotanya merapat ke pemerintahan. Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra mendoakan pemerintahan Jokowi stabil dan bisa mengatasi persoalan bangsa.
"Tidak masalah (KMP bubar). Dulu sebelum saya jadi ketua umum PBB, pada waktu itu PBB gabung dengan KMP calonkan Prabowo-Hatta. Saya waktu itu ambil langkah nggak setuju, dan tegas saya nyatakan tak mendukung baik Jokowi maupun Prabowo," kata Yusril.
Hal itu disampaikan usai sukuran ulang tahunnya yang ke-60 sekaligus peluncuran buku dan ensiklopedia di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (6/2/2016).
Yusril menyebut, meski secara pribadi tak mendukung salah satu pasangan calon atau koalisi, dia diminta untuk menjadi kuasa hukum Prabowo-Hatta di Mahkamah Konstitusi (MK) pasca Pilpres. Saat itu pun menurutnya, bukan karena ingin mendukug Prabowo, melainkan profesionalitas.
"Saya ahli yang dihadirkan dan di bawah sumpah hanya menerangkan ssesuai keahlian. Kalau pihak Jokowi tanya, saya akan jawab menurut ilmu, bukan kepentingan politik," terangnya.
Lalu saat Pilpres usai dan seluruh partai politik terpecah dalam dua koalisi, Yusril terpilih sebagai ketua umum PBB. Dia mengaku terikat dengan komitmen PBB sebelumnya yang jadi anggota KMP. Namun Yusril tak terlalu hirau.
"Saya tahu KMP juga ikatannya longgar. Saya kenal semua, kenal ARB, semualah. Kalau sekarang satu-satu partai akan bergabung pemerintahan Jokowi, baik PPP maupun Golkar dan PAN, silakan lah," kata Yusril.
"Tapi PBB sudah ambil garis jelas, tidak akan ikut dalam pemerintahan Jokowi karena kita tahu diri tidak ada wakil di DPR RI," imbuh mantan Menteri Kehakiman itu.
Karena itu saat ini dia akan fokus untuk membenahi PBB. Salah satu modalnya adalah hasil Pilkada 9 Desember lalu di mana PBB menang di 53 daerah, karena ikut mengusung pasangan calon bersama parpol lain di tingkat kabupaten/kota.
"Jadi kita beri kesempatan teman-teman dan saya doakan pemerintahan Jokowi stabil, bisa selesaikan persoalan bangsa secara tepat dan cepat. Tidak tinggalkan banyak utang atau membebani pemerintahan yang baru," pungkasnya.
Wakil Presiden Jusuf Kalla menghadiri syukuran ulang tahun Yusril Ihza Mahendra ke-60, sekaligus peluncuran buku dan ensiklopedia Yusril. JK dalam sambutannya memaparkan sosok Yusril sebagai seorang pengacara hingga ahli khutbah.
"Bagi seorang pemikir, 60 tahun adalah kematangan yang baik. Karena itu beliau dihargai, dengan ensiklopedia berarti pemikiran beliau dihargai," ucap JK dalam acara yang digelar di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (6/2/2016).
JK menyebut usia 60 tahun adalah akhir pengabdian bagi pejabat negara, namun Yusril melanjutkannya menjadi seorang pengacara. Sambil berkelakar, JK menyebut selain peran dan keahlian sebagai pengacara, Yusril juga punya keahlian tidak resmi saat menjadi aktor dalam film Laksamana Cheng Ho.
"Beliau ahli hukum, pengacara. Termasuk korupsi bisa dibela oleh saudara Yusril," lanjut JK disambut tawa hadirin.
"Tapi saat Yusril menghadapi masalah hukum, seperti tukang cukur tak bisa mencukur dirinya. Maka saya jadi saksi meringankan. Dalam tempo 3 jam dia sudah SP3. Jadi saya bisa bela beliau walau bukan ahli hukum. Jadi itulah seperti itu, kita ganti-gantian," papar JK mengingat kasus Yusril dulu.
Selain pengacara atau pakar hukum, JK menggambarkan Yusril sebagai politisi. Namun JK tidak setuju jika Yusril disebut sebagai Natsir muda meski pemikiran Yusril banyak dipengaruhi Natsir. Menurutnya, Yusril tokoh dengan pemikiran yang orisinil.
"Bahwa Pak Natsir jadi guru boleh, tapi jangan disebut Natsir kedua. Sama saja seperti Soekarno muda, nggak ada yang berhasil. Jadi Yusril ya Yusril, Natsir, Natsir," terang mantan ketum Golkar itu.
"Dan kadang mungkin saudara Yusril politisi yang ketinggalan jaman. Sekarang sudah pragmatis, beliau idealis. Tapi kita membutuhkan politisi yang idealis untuk bangsa ke depan yang lebih baik," lanjut JK memuji Yusril.
JK lalu mengomentari sisi religius Yusril Ihza Mahendra yang disebutnya sebagai pemikir muda Islam. Meski kerap berpakaian dan sepatu koboi, JK mengungkap Yusril jago khotbah di masjid.
"Kalau ke Makassar, selalu dia jadi khutbah di masjid. Baju boleh koboi tapi khatib. Itu dilaksanakan dengan baik," ujar JK kembali disambut tawa.
Satu lagi kenangan JK tentang Yusril yang kini berulang tahun ke-60, adalah sosok birokrat yang pandai. Yusril pernah jadi Menteri Kehakiman dan HAM era Gusdur tahun 1999-2001, Menteri Hukum dan Perundang-undangan era Megawati tahun 2001-2004 dan Mensesneg era SBY tahun 2004-2007.
"Waktu era Gus Dur, saya Menteri Perdagangan, Yusril menteri kehakiman. Cuma saya duluan dipecat dari beliau. 6 bulan. Dia dipecat juga, walau dia amankan jalannya Yusril. Anda mundur untuk lapangkan jalannya Gus Dur ternyata kena pecat juga," kenang JK disambut tawa.
Begitu juga saat menjadi Mensesneg era SBY, di mana JK saat itu Wapres. Menurutnya, Yusril saat itu cukup berkuasa karena memegang semua berkas-berkas penting Presiden seperti Kepres, Perpres dan lainnya yang salah satunya atas masukan Yusril.
Bahkan, Yusril tak sekali pulang larut untuk menyelesaikan berkas-berkas itu, termasuk pidato Presiden yang disusunnya agak mendayu-dayu. Meski kata JK, Yusril tak selalu dia pulang malam karena pekerjaan. "Dia bilang hari Sabtu lembur, padahal kantor kosong. ha.ha..," kata JK tertawa.
"Saudara Yusril orang yang mempunyai tempat sesuai dengan kemampuannya. Saya pikir apa yang dilakukan di pemerintahan sesuai kemampuan," imbuhnya.
"Sekali lagi selamat ulang tahun ke-60," tutup JK mengakhiri testimoninya disambut tepuk tangan.
No comments:
Post a Comment