Puji (31), seorang pegawai rumah sakit, mengaku unit rusun yang dihuninya sempat mengalami genangan air.
"Tempatnya enak, cuma masih ada beberapa kekurangan. Aliran air (kamar mandi) menggenang. Kamar mandinya kadang ada rembesan dari atas," ujar Puji, saat ditemui Kompas.com, di unit rusunnya di Tower B lantai 7, Kamis (20/8/2015).
Selain tempatnya, Puji juga mengatakan beberapa unit rusun lainnya mengalami hal yang sama. Bahkan, di beberapa unit ada pula yang wastafel dan torent yang bocor.
Meski merasa nyaman, ibu dua anak ini khawatir dengan adanya lift. Ia takut saat anak-anaknya bermain akan terjebak di lift.
"Takut kejebak lift," ucap wanita yang menempati Rusun Jatinegara Barat sejak awal puasa lalu itu.
Saat ini, ia mengharapkan Pemprov DKI Jakarta segera memasang tralis. Sebab, menurut dia, pemerintah baru melakukan pengukuran.
"Teralis baru pengukuran. Bilangnya nanti setelah (rusun) rame baru dipasang," kata Puji.
Sama halnya dengan Puji, warga lainnya yang baru melakukan pemindahan barang hari ini, Dahlia (45), mengaku merasa nyaman dengan rusun barunya. Namun, ia memikirkan kondisi keuangan mereka untuk bayar pada bulan keempat.
"Lumayan sih, enak sih enak tapi ke sananya bingung (bayarnya)," ujar wanita yang sehari-harinya hanya mengurus rumah tangga itu.
Bagi Dahlia yang memiliki suami dengan pekerjaan tidak menentu, keluarganya akan sangat kesulitan membayar uang sewa mulai bulan keempat. Ia berharap pemerintah dapat meringankan bebannya.
"Terima kasih yee dikasih tempat kayak gini. Cuma bingung bayarnya, enggak megang sama sekali uang. Tolong ya Neng sampaikan ke pak Ahok, ibu namanya Dahlia, di Blok A lantai 3," ujarnya.
Pantauan Kompas.com, karena ini merupakan kali pertama ia dan ibunya, Nyai Saanih (67), ke rusun, mereka tampak bingung saat akan turun ke lantai dasar dari unit rusunnya yang terletak di lantai 3. "Aduh belok sana belok sini, ya Allah," keluh Nyai Saanih.
Meski keberatan karena rumahnya digusur Pemprov DKI Jakarta, Abdul Latief (37) akhirnya tetap pindah ke Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Jatinegara Barat, Jakarta Timur, Kamis (20/8/2015). Latief mengaku hanya menempati rusun itu untuk sementara.
"Oh nanti kita balik lagi. Kita sebagian warga di sana (Rusunawa Jatinegara Barat), sebagian di sini (Kampung Pulo)," ujar pria yang tinggal di RT 03 RW 03 itu.
Siang tadi, Latief dan anggota keluarganya tampak membawa peralatan rumah tangga, seperti lemari, kompor gas, tabung gas 3 kilogram, serta barang-barang lainnya. Mereka memindahkan peralatan tersebut dengan berjalan kaki.
Menurut Latief, sebelum digusur, di rumahnya, terdapat tiga kepala keluarga (KK). Oleh karena itu, di rusun nanti pun, ia akan berbagi tempat dengan dua KK lainnya untuk sementara waktu.
Menurut Latief, rumahnya hanya dihancurkan sebagian, sedangkan sebagian lainnya tidak terkena penggusuran.
Karena rumahnya yang tergusur hanya sebagian, Abdul Latief pun berencana akan merenovasi sebagian rumah yang tidak dihancurkan itu dan kembali ke sana.
"Nanti kita perbaiki, terus tinggal lagi di sana. Nanti sebagian-sebagian sama KK yang lain," ujarnya.
Saat ditanya mengapa ia baru pindah saat penggusuran, pria yang baru mengambil kunci rusun dua minggu yang lalu itu mengatakan, hari ini bukanlah kali pertama ia memindahkan barang-barangnya.
"Sebagian barang sudah dipindahkan, sebagian sekarang," ujar Latief.
Menurut keterangan salah satu warga lainnya yang juga tergusur, Puji (31), memang ada beberapa permukiman warga di Kampung Pulo yang hanya tergusur sebagian. Hal tersebut sudah ditentukan Pemprov DKI Jakarta jauh-jauh hari sebelum penggusuran.
Menurut keterangan salah satu warga lainnya yang juga tergusur, Puji (31), memang ada beberapa permukiman warga di Kampung Pulo yang hanya tergusur sebagian. Hal tersebut sudah ditentukan Pemprov DKI Jakarta jauh-jauh hari sebelum penggusuran.
"Hitungannya meteran dari ujung kali sampai batas yangditentuin. Ada luasnya (pelebaran kali) itu. Sudah ditandain sama pemerintah," ujar ibu dua anak itu.
Menurut Puji, tanah itu adalah milik warga. Mereka sudah memilikinya secara turun-temurun dari dulu dan mereka pun membayar iuran pajak bumi dan bangunan (PBB).
No comments:
Post a Comment