Friday, September 4, 2015

Fitra Sebut Kehadiran Ketua DPR di Kampanye Donald Trump Pakai Uang Rakyat

Forum Indonesia untuk Trasparansi Anggaran (Fitra) mengkritik kehadiran Ketua DPR Setya Novanto dan Wakil Ketua DPR Fadli Zon dalam acara kampanye bakal calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump.
Sebab, kehadiran pimpinan DPR di Amerika Serikat yang menggunakan uang negara tersebut, bertujuan untuk menghadiri konferensi ketua parlemen sedunia, bukan untuk menghadiri kampanye Donald Trump.
"Setya-Fadli selfie dengan uang rakyat. Ini bentuk pemborosan keuangan negara. Sepulang dari AS, FITRA akan menagih akuntabilitas biaya perjalanan dinas ini," kata Sekjen Fitra, Yenny Sucipto, dalam keterangan tertulisnya kepada Kompas.com, Kamis (5/9/2015).
Apalagi, lanjut Yenny, berdasarkan penelusuran FITRA, rincian biaya ke AS tersebut tidak transparan. Sekjen DPR juga tak berusaha menjelaskan anggaran biaya perjalanan dinas tersebut ke publik.
"Namun, jika mengacu pada tahun sebelumnya, perjalanan ke London membutuhkan anggaran hingga mencapai di atas Rp 15 miliar," ucap Yenny.
Untuk itu, FITRA pun membuat kajian riil terkait perjalanan dinas ke AS berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan 53/PMK.02/2014 tentang Standar Tentang Biaya Masukan 2015, termasuk biaya tiket, uang saku dan hotel perjalanan Dinas. Berdasarkan itu, maka ditemukan:
1. Biaya Pesawat ke AS: 14,428 dollar AS satu perjalanan.
2. Uang Harian 527  dollar AS per anggota DPR. 
3. Hotel @ 1312,02 dollar AS  per malam.
Maka jumlah anggaran untuk sembilan orang ke AS selama 12 hari diperkirakan sebesar Rp. 4.631.428.800 (Rp 4,6 miliar). Angka ini berdasarkan asumsi paket hemat sesuai Peraturan Menteri Keuangan.
Namun, Fitra memprediksi bahwa anggaran yang dihabiskan akan lebih besar dari Rp 10 Miliar dengan asumsi berbagai tunjangan. Perkiraan biaya ini juga belum termasuk potensi adanya kemahalan harga (mark up) karena sistem lumpsum (dialokasikan di awal).
Sayangnya, dengan anggaran sebesar itu, perilaku ketua DPR dan rombongan justru menunjukkan perilaku yang tidak sepatutnya dilakukan, yaitu dengan menghadiri kampanye Donald Trump. Menurut Yenny, ini memperlihatkan bahwa seolah-olah Indonesia adalah negara kecil yang bisa dibuat lelucon oleh AS.
"Agenda kunjungan ke AS tidak jelas, bahkan foto-foto dengan politikus AS justru membuat rakyat Indonesia malu," ujar Yenny.
Selain itu, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana juga menyesalkan kehadiran Setya Novanto dan Fadli Zon di kampanye Donald Trump. Hikmahanto menilai Setya Novanto telah dimanfaatkan oleh Donald Trump. (Baca:Hikmahanto: Ketua DPR Dimanfaatkan oleh Donald Trump)
"Jawaban dan kehadiran Setya Novanto yang diperkenalkan sebagai Ketua DPR, seolah memberi endorsement atas kampanye Trump. Tanpa disadari, Ketua DPR dari sebuah negara besar dengan jumlah muslim terbesar dan demokratis, telah dimanfaatkan oleh Donald Trump," kata Hikmahanto.

No comments:

Post a Comment