Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama bersama Kepala Dinas Perumahan dan Gedung Pemda DKI Ika Lestari Aji, Wali Kota Jakarta Timur Bambang Musyawardhana, Ketua Penggerak TP PKK DKI Veronica Tan, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK DKI Happy Djarot Saiful, dan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) DKI Dien Emmawati saat meresmikan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Rusun Pulogebang, di Jakarta Timur, Rabu (23/12/2015).
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama meminta para penghuni rusun yang tidak memiliki pekerjaan untuk melamar sebagai petugas penanganan prasarana dan sarana umum (PPSU) kelurahan.
Sebab, penghuni rusun sudah memenuhi syarat untuk menjadi PPSU, yakni memiliki identitas KTP DKI.
"Saya ingin yang tinggal di rusun dan tidak punya kerjaan diutamakan direkrut menjadi PPSU atau pegawai pemerintah dengan kontrak. Jadi, tidak ada lagi pengangguran," kata Basuki saat meresmikan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Rusun Pulogebang, Rabu (23/12/2015).
PPSU akan dibayar sebesar nilai upah minimum provinsi (UMP). Jika mengacu pada nilai UMP 2016, PPSU dibayar sekitar Rp 3,1 juta per bulan.
PPSU bertugas untuk menjaga agar lingkungan tetap bersih, seperti menyapu jalanan, membersihkan area dari sampah, dan membersihkan sungai.
Pada kesempatan itu, Basuki juga meminta pengembang yang tergabung dalam Realestat Indonesia (REI) DKI Jakarta untuk membangun banyak rusun.
Dengan cara tersebut, dia melanjutkan, tidak ada lagi warga Jakarta yang tinggal di permukiman kumuh.
Selain itu, Basuki menawarkan kepada warga yang memiliki lahan seluas 100 meter persegi untuk menjualnya kepada Pemprov DKI.
"Tanah itu akan kami bangun apartemen 16 lantai, dan kami akan ganti tanah Bapak-Ibu 150 meter (persegi). Kami berikan 5 unit apartemen untuk Bapak-Ibu dan sertifikat hak milik. Sisanya tetap punya kami, namanya juga bisnis," kata Basuki.
Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama memberikan penghargaan kepada tiga sekolah yang memiliki kantin dengan keamanan pangan paling baik.
Ketiga sekolah tersebut adalah SD Menteng 02 Pagi Jakarta Pusat, SD Ujung Menteng Jakarta Timur, dan SD Cipinang Muara 05 Pagi Jakarta Timur.
Penilain terhadap kantin tersebut merupakan bentuk kerjasama BPOM DKI, Dinas Pendidikan DKI, Dinas Kesehatan DKI, serta Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah DKI.
Saat menyerahkan penghargaan, Basuki bercerita bahwa ia pernah bertemu anak pengidap kanker meresmikan sebuah rumah sakit.
Basuki pun menilai adanya kaitan antara kesehatan anak dengan jajanannya di sekolah.
"Ini pasti ada hubungannya waktu kecil jajannya sudah yang mengandung bahan kimia berbahaya di sekolah," ujar Ahok di Balai Agung, Balai Kota DKI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Rabu (23/12/2015).
Dengan demikian, Basuki menilai perlunya peran guru hingga kepala sekolah untuk menjamin kebersihan makanan anak-anak. (Baca: Ciri Jajanan Anak yang Tidak Sehat)
Pria yang dikenal dengan nama Ahok ini tidak ingin para guru hanya sekadar datang dan mengajar muridnya, tanpa memerhatikan makanan siswa.
Menurut Ahok, banyak penjual makanan berbahaya yang menjajakan dagangannya di luar lingkungan sekolah.
Oleh karena itu, menurut dia, makanan yang dijual di kantin harus lebih menarik daripada yang dijual di luar sekolah sehingga anak tidak tertarik jajan di luar sekolah.
"Terus kalau makanan di kantin kalian harganya mirip dengan yang di luar sekolah, siswa pasti enggak mau jajan keluar," ujar Ahok.
Ia berharap seluruh sekolah di Jakarta bisa mendapatkan piagam penghargaan seperti tiga sekolah dasar tersebut.
"Yang dapet piagam harus dipertahankan, tetapi saya mau semua harus dapat piagam ini. Kalau dalam agama islam, ini wajib hukumnya," kata Ahok.
Sementara itu, Kepala BPOM DKI Dewi Prawitasari mengatakan bahwa tiga sekolah tersebut akan dievaluasi setiap tahun.
Hal ini dilakukan untuk menguji konsistensi mereka dalam menjaga kesehatan pangan yang dijual di kantin. (Baca: Setelah Santap Nasi Kuning, 20 Siswa SMA Keracunan)
"Tahun depan akan kami tes lagi untuk menguji konsistensi penerapan keamanan pangan ini," ujar dia.
No comments:
Post a Comment