Thursday, February 4, 2016

Ahok: Jangan-jangan Selama Ini "Fogging" Kita Salah

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menginstruksikan Dinas Kesehatan DKI Jakarta untuk mengecek kandungan obat yang digunakan untuk fogging(pengasapan) secara berkala. 

Sebab, menurut dia, fogging cenderung gagal membunuh nyamuk Aedes aegepty yang menularakan penyakit demam berdarah dengue (DBD). (Baca: Ahok: Mungkin Nyamuknya Mutan, Makanya Obat "Fogging" Mesti Sering Dicek). 

"Jangan-jangan selama ini fogging kita salah. Malah terlalu banyak zat kimia yang enggak benar," kata Basuki, seusai meresmikan ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) Borobudur, Jumat (5/2/2016).

Basuki pun meminta Dinas Kesehatan untuk menganalisis kandungan zat yang digunakan untuk fogging.

"Kalau (obat) malah bikin nyamuk jadi kebal, lebih baik ganti jenis obatnya," sambung Basuki.

Ia juga mengatakan bahwa  Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus melakukan fogging tanpa diminta.

Bahkan, lanjut dia, selama ini Pemprov DKI Jakarta menjalankan program pemberantasan sarang nyamuk setiap Jumat. (Baca: Ahok Katakan Warga Bisa Minta "Fogging" Melalui Qlue).

Sayangnya, menurut Ahok, petugas kesehatan maupun juru pemantau jentik (jumantik) sulit menjangkau perumahan elite sehingga upaya pencegahan DBD belum menyeluruh. 

"Kadang orang Jakarta itu kalau enggak ada keluarganya yang kena demam berdarah, enggak ada yang minta fogging. Makanya saya imbau warga Jakarta kalau minta fogging di Smart City," kata Basuki.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengaku telah meminta Dinas Kesehatan DKI Jakarta untuk mengecek obat yang digunakan dalam fogging atau pengasapan nyamuk Aedes aegypty.

Hal ini dilakukan dalam rangka mengantisipasi merebaknya demam berdarah dengue (DBD) yang ditularkan melalui gigitan nyamuk tersebut. (Baca: Lakukanlah "Fogging" Saat Nyamuk Aedes Istirahat

"Apakah obat fogging-nya tidak sesuai? Mungkin nyamuknya mutan, makanya mesti sering dicek," kata Basuki di Balai Kota, Jumat (5/2/2016). 

Selain itu, menurut Basuki, warga perlu membersihkan rumah dan lingkungannya untuk mencegah perkembangan jentik nyamukAedes aegypty.

Basuki lantas mencontohkan penularan DBD di wilayah tempat tinggalnya. Basuki dan anak bungsunya terkena DBD beberapa waktu lalu. (Baca: Ahok: Pas Saya Kena DBD, Jentik Nyamuknya dari Dispenser).

Menurut dia, penyakit itu muncul dari Aedes aegepty yang berkembang biak di dispenser pos satpam di lingkungan tempat tinggalnya. 

"Nah, kemarin anak saya kan kena (DBD) lagi. Dilihat, ternyata di pot bunga di atas kolam renang (jentik nyambuk berkembang). Supaya air kotor tak masuk ke kolam renang, dibuatlah tatakan," kata Basuki. 

Selain itu, Basuki menambah honor juru pemantau jentik (jumantik) menjadi Rp 10.000 untuk setiap laporan yang diserahkan.

Basuki juga meminta warga untuk mengajukan permohonanfogging melalui aplikasi Qlue, yang memuat menu fogging. (Baca:Ahok Katakan Warga Bisa Minta "Fogging" Melalui Qlue).

"Kalau banyak warga minta fogging, berarti kemungkinan lurahnya kurang gencar (melakukan fogging atau sebar jumantik). Maka, kita harus tekan wali kota, kalau perlu gedor rumah orang, minimal beri surat pemberitahuan suruh dia periksa di rumahnya ada atau tidak (jentik nyamuk)," ujar Basuki. 

Ia juga mengingatkan konsekuensi terkena DBD jika warga menolak didatangi jumantik atau petugas fogging

"Ini memang pendidikan yang panjang," sambung Basuki. 

Adapun jumlah penderita DBD di Jakarta meningkat dalam sepekan ini. (Baca: Ini Penyebab "Fogging" Tak Ampuh Basmi Nyamuk DBD).

Data di Dinas Kesehatan DKI Jakarta menunjukkan, kasus DBD di Jakarta selama Januari 2016 telah mencapai 330 kasus.

No comments:

Post a Comment