Jakarta -Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin proyek 35.000 megawatt (MW) segera terbangun, karena masih banyak rakyat Indonesia belum menikmati listrik. Apalagi saat ini elektrifikasi di Indonesia masih lebih rendah dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
"Jelas sekali bagaimana pemerintah ingin lari secepat-cepatnya untuk membangun listrik. Angka 35.000 MW ini bukan hanya angka yang tiba-tiba muncul. Tetapi angka yang sudah dihitung dengan cermat berdasarkan konsumsi saat ini," kata Menteri ESDM Sudirman Said, di depan para pengusaha pembangkit listrik di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Rabu (9/9/2015).
Apalagi kondisi saat ini kata Sudirman, tingkat rasio elektrifikasi nasional masih rendah sekitar 86,39%, jumlah ini jauh di bawah dengan negara-negara tetangga lainnya. Apalagi kapasitas listrik yang dimiliki Indonesia saat ini baru sekitar 53.535 MW.
"Dibandingkan Malaysia rasio eletrifikasi kita seperlima-nya, dengan Singapura paling kita sepersepuluhnya. Dengan Brasil yang jumlah penduduk kita sama tapi kapasitas terpasangnya sudah 2 kali lipat dari kita," ungkapnya.
Melihat kondisi tersebut kata Sudirman, pemerintah ingin menambah banyak pembangkit listrik, dengan listrik cukup dapat memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Apalagi listrik yang cukup merupakan syarat menjadi negara maju.
"Maka angka 35.000 MW itu adalah angka yang sudah dihitung sangat cermat. Jadi saya mau bilang, tidak perlu ada keraguan, tidak perlu looking back. Jadi sekali lagi, tidak ada penurunan target. Malah pas ketemu Presiden beliau tanya, kapan kita bisa tambah 35.000 MW lagi. Jadi selamat bekerja terus bapak-bapak, kita harus capai 35.000 MW," tutupnya.
"Jelas sekali bagaimana pemerintah ingin lari secepat-cepatnya untuk membangun listrik. Angka 35.000 MW ini bukan hanya angka yang tiba-tiba muncul. Tetapi angka yang sudah dihitung dengan cermat berdasarkan konsumsi saat ini," kata Menteri ESDM Sudirman Said, di depan para pengusaha pembangkit listrik di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Rabu (9/9/2015).
Apalagi kondisi saat ini kata Sudirman, tingkat rasio elektrifikasi nasional masih rendah sekitar 86,39%, jumlah ini jauh di bawah dengan negara-negara tetangga lainnya. Apalagi kapasitas listrik yang dimiliki Indonesia saat ini baru sekitar 53.535 MW.
"Dibandingkan Malaysia rasio eletrifikasi kita seperlima-nya, dengan Singapura paling kita sepersepuluhnya. Dengan Brasil yang jumlah penduduk kita sama tapi kapasitas terpasangnya sudah 2 kali lipat dari kita," ungkapnya.
Melihat kondisi tersebut kata Sudirman, pemerintah ingin menambah banyak pembangkit listrik, dengan listrik cukup dapat memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Apalagi listrik yang cukup merupakan syarat menjadi negara maju.
"Maka angka 35.000 MW itu adalah angka yang sudah dihitung sangat cermat. Jadi saya mau bilang, tidak perlu ada keraguan, tidak perlu looking back. Jadi sekali lagi, tidak ada penurunan target. Malah pas ketemu Presiden beliau tanya, kapan kita bisa tambah 35.000 MW lagi. Jadi selamat bekerja terus bapak-bapak, kita harus capai 35.000 MW," tutupnya.
No comments:
Post a Comment